Ada Apa dengan AADC2?


Film AADC adalah fenomena yang melegenda. Terutama bagi kawula muda yang akrab dengan romansa a la Indonesia. Termasuk saya. hehehe... Nama Cinta dan Rangga pun menyejarah dalam ingatan penonton apalagi penggemar, sebagaimana sepasang pemerannya: Dian Sastro dan Nicholas Saputra juga lekat dalam memori. Semua ini gegara Riri Riza dan Mira Lesmana yang dengan genial meracik cerita, scene, dialog, dan peran dalam Film bombastis: AADC. Kisah kasih khas anak SMA. Aku menonton seusia peran film itu: SMA.

Jutaan penonton AADC tumbuh dalam narasi hidupnya masing-masing. Namun ingatan akan AADC tak lekang. Terlalu banyak adegan yg menancap di kepala penonton. Bahkan setiap tokoh beserta karakternya masih hidup di langit-langit kenangan pemirsa. Salah satu bagian terkuat AADC adalah ending yang bikin hati geregetan, demam dan acakadul, yaitu perpisahan Rangga - yang harus terbang ke New York - dan Cinta - yang tak ingin ditinggal Rangga tanpa mengungkapkan perasaannya. Setelah berjuang untuk mendapatkan ciuman tak terduga itu, Cinta mendapat imbalan berupa janji, bahwa dalam satu purnama, Rangga akan kembali. Begitu yang tersurat dalam secarik puisi.

Sialan. Remaja mana yang tak ikut tergetar menyaksikan film yang sedikit banyak mewakili perasaan dan kisah mereka itu? Demikianlah AADC telah menjadi narasi yang terlalu kuat. Lebih kuat dari narasi dalam kitab-kitab suci para remaja itu, barangkali. Penggemar AADC malanjutkan narasi hidupnya yg nyata dengan satu tanya: Kapan akan ada sekuel AADC? Dengan kesabaran luar biasa, rasa penasaran mereka mulai terjawab ketika ditayangkan miniclip dari sebuah iklan Line yang dengan sporadis mengambil setting akan ditayangkannya AADC2. Penggemar kembali histeris, apalagi sudah ada media penyebar cerita yang tak terbendung macam instagram, path dan kawan-lawannya. Termasuk tentu saja FB dan twitter.

14 tahun adalah waktu yg cukup lama untuk menguji kesabaran dan rasa penasaran. 14 tahun adalah waktu yg cukup lama untuk mendewasakan manusia. 14 tahun adalah waktu yg cukup untuk berharap, bahwa cerita cinta Rangga dan Cinta - yang menjadi episentrum film ini, di samping tentu saja kisah seru geng cinta - pun ikut tumbuh mendewasa. Karena 14 tahun masihlah waktu yg terlalu singkat untuk melupakan narasi sekuat dan selekat AADC pertama. Setelah ratusan purnama, AADC2 tayang. 


Daaaannnn.... penonton kecewa. Sampai detik ini, setidaknya ada tiga artikel yang sempat kubaca, yang mengulas betapa mengecewakannya film AADC2. Ekspektasi yang terlanjur membumbung tinggi harus rela terjun bebas terhempas ke bumi. AADC2 tak seindah yang dibayangkan. Penantian 14 tahun terasa sia-sia. Karakter tokoh tak sekuat di film pertama. Skenario dan dialog dipandang serupa FTV yang tayang tengah malam. Logika cerita kayak dipaksakan sana-sini. Daaaaannnn, satu pertanyaan yang paling bikin penasaran kan seputar bagaimana kisah Cinta-Rangga akan berlanjut: Bagaimana mereka bertemu dan berdamai dengan masa lalu? Akan sedramatis apa adegan perjumpaan itu? Serumit apa kisah yang disajikan dalam AADC2? Akan jadi konteks semacam apakah Jogja di film ini?
Antiklimaks. Dalam konteks ini, narasi AADC2 telah kalah dari banyak segi, dibanding AADC. Penonton yang merindukan kedalaman, malah disuguhi banalitas.

Demikianlah narasi begitu kuat dalam memengaruhi sendi-sendi kehidupan manusia. Ia diam-diam menentukan preferensi. Juga selera. Cerminan bahwa pola pikir, pola rasa dan pola tindak manusia dipengaruhi oleh narasi yang membangun dan yang dibangun. Indonesia konon sekarang ini diisi generasi yang miskin narasi. Narasi yang dalam serta sarat nilai. Sebuah fenomena yang cukup mengkhawatirkan, sebenarnya. Generasi yang rawan terjatuh pada lobang ahistoris dan apatis. Kekuatiran ini didukung oleh hasil riset tentang lemahnya minat baca rakyat Indonesia - termasuk dan terutama anak muda. Maka, butuh perjuangan meningkatkan tradisi literasi. Agar nilai-nilai luhur dapat mentradisi seiring tumbuh dan tambahnya generasi. Syukurlah, masih banyak anak muda yang kritis terhadap nilai luhur budaya, terutama dalam dunia perfilman. Salah satunya adalah dengan berani mengkritik AADC2 habis-habisan.

Namun aku tetap akan menonton film itu. Setidaknya ada narasi yang harus kutuntaskan, yaitu kekagumanku atas kecantikan mbak Dian Sastro. hehehehe...


_argo