The Beatles dan Gereja





Mengapa karya The Beatles begitu populer dan dapat diterima oleh pendengarnya dari zaman ke zaman? Salah satu kunci sukses mereka adalah adanya John Lennon dan Paul McCartney sebagai pencipta sebagian besar lagu The Beatles.

Sebenarnya John dan Paul adalah dua kutub yang saling bertolak belakang. John adalah seorang yang begitu konservatif dalam bermusik. Ia begitu klasik dan tidak menyukai adanya perubahan. Saking ortodoksnya, ketika zaman itu berkembang teknologi stereo, John tetap konsisten dengan sound mono yang mulai banyak ditinggalkan. Sebaliknya, Paul adalah musisi yang revolusioner. Ia sangat gemar bereksperimen dalam bermusik. Ia begitu gemar mencampur-adukkan berbagai aliran musik, termasuk musik-musik elektronik yang belum banyak digunakan di zaman itu.

Apa jadinya ketika yang tradisional dan yang revolusioner bersama-sama berkarya? Tentu saja akan ada ledakan-ledakan dahsyat. Ibarat dua kutub listrik disatukan, dan... booom!!! Mereka sering kali berdebat, bertengkar, ngambeg, hingga saling menjelekkan satu dengan yang lain. Tapi setelah itu, muncullah mahakarya yang luar biasa. Karya The Beatles bukan sembarang karya. Lagu-lagu The Beatles adalah karya yang memiliki kekuatan klasik tapi juga memiliki nuansa futuristik. Kekuatan klasik muncul karena peran dari John Lennon yang berjiwa konservatif, sedangkan nuansa futuristik hadir karena Paul McCartney yang berjiwa revolusioner.

Yang ortodoks tidak perlu dikubur dan ditinggalkan tanpa daya, sedangkan yang revolusioner jangan langsung dianggap nganeh-anehi. Memang untuk mempersatukannya akan muncul perseteruan yang hebat. Tapi ketika berhasil memadukan keduanya, sesuatu yang luar biasa akan tercipta. Pun demikian dengan gereja, sebaiknya ada ruang apresiasi bagi mereka yang berjiwa tradisional dan juga mereka yang bersemangat kontemporer, agar tidak saling membunuh di dalam pelayanan, tetapi bersinergi untuk kemuliaan Tuhan.



Ceper, 22062015