Selalu Ada Tanda Tanya antara Aku, Kamu, dan Mereka (Sebuah Refleksidari Film "?" - Tanda Tanya)

Dari judul yang dipilih, sudah menunjukkan bahwa ini adalah film yang cerdas. “?” (tanda tanya). Bukan dengan kata-kata tetapi dengan simbol. Dari judulnya, akan membuat orang terusik untuk mengetahui ada apa dibalik simbol tanda tanya itu?

Film ini adalah kumpulan tanda tanya (masalah), sekaligus pula kumpulan jawaban dari sekian banyak tanda tanya (masalah) di dalamnya. Bagaimana sinopsisnya? Sangat rumit untuk dijelaskan. Film ini terdiri dari beberapa kisah yang ternyata ada kalanya kisah-kisah itu berjumpa di satu titik, tapi ada kalanya kisah itu berjalan lepas. Satu hal yang membenang merahi kisah-kisah itu adalah tantangan di tengah kehidupan pluralitas beragama. Ada kisah seorang ibu yang memeluk agama Katholik, kemudian bercerai dengan suaminya, dan akhirnya ia pun tinggal bersama dengan anaknya yang memilih agama lain. Ada kisah seorang aktor viguran yang frustasi karena gagal mendapatkan peran-peran utama di dalam film, hingga ia pun akhirnya mau menerima peran sebagai Yesus dalam drama prosesi ibadah di gereja Katholik – meskipun ia seorang muslim. Ada pula kisah keluarga Tionghoa pemilik warung makan masakan China yang menghidangkan menu babi sebagai menu utamanya, dengan segala pergumulan di tengah-tengah kehidupan kebersamaan. Hingga kisah yang paling tragis adalah kisah seorang banser NU yang merelakan nyawanya dengan merebahakan tubuh di atas bom yang ditemukan di gereja Katholik pada saat ibadah berlangsung untuk menyelamatkan jemaat gereja dari ledakan bom (ini diangkat dari kisah nyata).

Kisah-kisah tersebut terurai dan kadang tersimpul, tanpa ada alur utamanya. Yang menjadi pesan dari film ini adalah bagaimana agama itu hadir bukan untuk memberi sekat yang menjauhkan kehidupan antar umat, tetapi justru hadir untuk mempersatukan umat dengan cinta dan kasih. Belum tentu kehidupan keluarga seagama itu rukun dan damai sejahtera. Belum tentu juga mereka yang berbeda agama tidak bisa rukun. Inilah sindiran kritis atas kehidupan beragama kita selama ini. Film ini membawa kita kepada pandangan inklusif dan dialogis, serta mengikis rasa eksklusif yang sering kali menjadi batu sandungan di dalam kehidupan bersama. Film ini pun juga mengajak kita untuk bergumul dan mempertanyakan iman yang sesungguhnya itu sebenarnya iman yang seperti apa ketika kita hidup bersama-sama di dalam kehidupan plural.

Jawaban dari film ini bukanlah agama mana yang muncul sebagai pemenang dan dianggap terbaik. Semua agama itu baik dan ketika berjumpa harus ada dialog sebagai jembatan. Seperti kisah pergumulan Surya, seorang muslim yang akhirnya memerankan tokoh Yesus pada saat ibadah Paskah di gereja Katholik. Dia tidak kalah ataupun menang. Dia menerima peran dan menghayati sebagai Yesus bukan kemudian dia berubah menjadi Katholik. Dia melakukan itu karena dia adalah seniman, dan dia menghargai apa yang dipercayakan kepada dirinya. Demikianlah iman itu terwujud. Tidak harus memaksakan untuk berubah, tetapi ketika mampu untuk berdialog dengan hati dan pikiran jernih, maka akan tercipta sebuah jalinan nan mesra dan laras. (dpp)