Pranata Masa Kala

"Samubarang kabeh iku ana wayahe, apa bae ing sangisore langit iki ana wayahe."
-Kohelet 3:1







Kesadaran akan arti penting masa dan waktu sudah merasuki seluruh segi kehidupan. Boleh dibilang, bangsa agraris melalui para petaninya adalah bangsa yang sangat peka dengan masa, waktu atau musim.

Petani Jawa mengenal pranatamangsa yang menunjukkan betapa dalamnya kesadaran mereka akan waktu. Umat Israel juga mengenal musim menanam dan menuai. Bahkan, ada dua hari raya panen yang dirayakan. Hari Raya Tujuh Minggu atau Pentakosta atau riyaya Panen dan Hari Raya Pondok Daun atau riaya Undhuh-undhuh (Ulangan 16:16).

Pengalaman iman bangsa Israel tidak bisa dilepaskan dari penghayatan terhadap hari raya panen ini. Tidak mengherankan bila hari raya panen akhirnya menjadi hari raya keagamaan yang meriah. Dengan kata lain, religiusitas umat Israel tidak bisa terpisah dari sistem hidup agraris.

Mengingat arti pentingnya hari raya di seputar panen, peristiwa keluaran yang merupakan sejarah keselamatan Israel yang sangat dijunjung tinggi pun, dalam perkembangannya dikenang dan dihayati dalam konteks peristiwa panen.  Bangsa Israel memiliki dua musim panen. Panen pertama jatuh pada bulan Sivan (Mei-Juni) dan panen kedua jatuh pada bulan Tisyri (September-Oktober).

Pada panen pertama, bangsa Israel merayakan Pentakosta, yang disebut juga Hari Raya Tujuh Minggu, Hari Raya Menuai, dan Hari Raya Hulu Hasil (Kel. 23:16; 34:22; Bil. 28:26; Im. 23:16). Pada panen kedua, bangsa Israel merayakan Hari Raya Pondok Daun, Riaya Undhuh-undhuh, atau Riaya Tancebing Tarub. (Kel. 23:16; 34:22; Bil. 29:12-38; Im. 23:16; Ul. 16:13).

Melalui kedua peristiwa panen itu Bangsa Israel selalu mengkaitkan dengan peristiwa sejarah keselamatan. Panen pada Hari Raya Pentakosta dimaknai untuk mengenang Perjanjian di Sinai, ketika umat Israel diangkat sebagai umat Allah dengan anugerah sepuluh perintah Allah. Panen pada Hari Raya Pondok Daun dimaknai untuk mengenang pemeliharaan Tuhan di sepanjang perjalanan umat Israel, sekalipun harus tinggal di pondok-pondok darurat (Im. 23:39-43; Bil. 29:12-38).

Dengan panen kedua ini, umat Israel semakin yakin akan wujud pemeliharaan Tuhan melalui tanah yang Tuhan anugerahkan, yang terus-menerus menghidupi mereka dengan hasil panen yang melimpah. Penghayatan ini
menggerakkan hati untuk mengucap syukur ke hadirat Tuhan yang diwujudkan dengan pesta keagamaan.

Belajar dari pengalaman Bangsa Israel, sekarang bagaimana Gereja Kristen Jawa menata masa liturginya? GKJ sebagai salah satu Gereja di Indonesia sebenarnya memiliki tantangan untuk benar-benar menjadi Gereja dari Indonesia. Artinya, ekpresi penghayatan iman hingga perayaan keagamaan perlu masuk ke dalam penghayatan terdalam sebagai bangsa agraris.

Lagi pula, Gereja mengimani Kristus sebagai Raja Semesta Alam. Sebagai Sang Raja atas semesta, tentu Kristus pun rindu peristiwa penyelamatan-Nya dirasakan dan dihayati oleh seluruh ciptaan. Manusia dan lingkungan hidupnya.

Terhadap buku H.H.Rowley, Worship in Ancient Israel, Dr. I.J. Cairns yang menerjemahkannya menyampaikan pendapat menarik dalam kata pengantar.
Semoga uraian Rowley membantu kita merasakan daya rangsang ibadat Perjanjian Lama itu, sehingga kita makin terdorong untuk mencarikan bentuk-bentuk ibadat yang alkitabiah-universal, namun yang sekaligus autentik Indonesia juga.


Sepertinya, ada peluang besar bagi GKJ untuk menata masa liturginya secara otentik. Orang Jawa memiliki tahun baru sura. Sudahkah itu dipertimbangkan secara teologis untuk menata masa liturgi? Termasuk tentu saja konteks agraris, adanya musim menaman dan menuai.

Alangkah indahnya bila pranata masa kala menjadi perhatian GKJ dalam menata perayaan imannya. Tata perayaan yang selalu merayakan sejarah keselamatan yang meraga-sukma dalam dunia agraris, demi pelestarian tata ciptaan ilahi.

Mungkin, di sinilah pentingnya Komisi Liturgi Sinode GKJ untuk menstudi dan memformulasi tata bacaan yang menyapa jiwa pranatamangsa Jawa. Mengingat pranatamangsa Jawa mengandung dimensi religiusitas budaya agraris yang unik dan menarik.

"Iman Kristen adalah iman pada inkarnasi Sabda dan kebangkitan Tubuh-Nya; inilah iman akan Allah yang begitu dekat pada kita sehingga ia memasuki sejarah kemanusiaan."
(Paus Fransiskus) @seti