Praksis Berteologi Lokal




Sebuah buku kecil hadir menerakan kata-kata penuh makna: Menghormati, Memberi Tempat dan Perhatian kepada Proses Berteologi Lokal. Itulah buku kecil terbitan Lembaga Percik menanggapi program pengembangan berteologi lokal dalam kerjasama dengan Sinode Gereja Kristen Jawa. Berteologi lokal merupakan praksis, dengan tiga kata kunci: menghormati, memberi tempat dan perhatian. Sampul buku ini menerangkan tentang pemakmaan tiga kata kunci tersebut.

Adalah tokoh Semar yang diserahkan Dr. Pradjarta, direktur Percik kepada Pdt. Paulus Pudjaprijatma dengan latar belakang rumah ibadah kampoeng Percik. Semar dimaknai sebagai simbol kepedulian kepada rakyat jelata. Semar, rakyat jelata diserahkan supaya dihormati, diberi tempat dan perhatian dalam praksis hidup bergereja Kristen Jawa. Peristiwa ini sungguh bermakna, karena mendapat tempat dalam liturgi kebaktian pengutusan Pdt. Paulus Pudjaprijatma, M.Th., ke Percik, sebagai pendeta pelayanan khusus dengan tetap berbasis pada GKJ Purwodadi.

Praksis Berteologi Lokal
Pilihan istilah Berteologi Lokal yang menggantikan terbitan sebelumnya teologi lokal memang punya konsekuensi arti. Ingin ditegaskan dalam cetakan keempat (2008) dengan revisi isi, bahwa berteologi lokal dipahami sebagai praksis. Bukan hanya konsep atau wacana. Kehadiran berteologi lokal diharapkan mendorong gereja untuk lebih terbuka dan melibatkan diri kepada keanekaragaman persoalan nyata dari pergumulan hidup manusia, kini dan di sini. Pilihan pada istilah lokal dan bukan konteks, ingin memberi artikulasi pada keunikan segi lokalitas. Jelasnya, berteologi lokal memiliki metodologi yang berbeda dengan berteologi kontekstual.

Dalam berteologi lokal, sumber-sumber lokal merupakan konteks dan sekaligus materi dalam melakukan refleksi iman. Sumber-sumber lokal yang paling dekat tentu saja adalah kehidupan keseharian jemaat dengan segala masalah konkrit yang dihadapi, baik pada aras individu maupun pada aras komunitas sebagai bagian dari masyarakat luas. Dalam berteologi lokal, sumber-sumber lokal digali dengan sukacita dan penuh semangat karena di dalamnya terdapat harta terpendam.

Bagaimana mendapatkan materi-materi ini? Tidak ada jalan lain kecuali ada kerelaan mendengarkan budaya atau mendengarkan realita. Untuk  mendengarkan budaya, mendengarkan realita ini memerlukan tahapan-tahapan metodologi. Peristiwa perlu direkam dan dicatat, tema-tema yang muncul perlu dicermati makna dan konteksnya, sebelum akhirnya direfleksikan. Hasil refleksi inilah yang dharapkan mendorong adanya aksi atau pembaruan dalam berteologi.

Mengapa Berteologi Lokal
Lokalitas merupakan sumber kekuatan kehidupan bersama. Sejarah dan kejadian-kejadian setempat memainkan peran penting. Di situlah penghayatan iman hidup dan berkembang secara konkrit.

Siapa Berteologi Lokal?
Tidak lain adalah umat dalam komunitas bersama-sama pendeta sebagai teolog profesional. Salah satu unsur yang sangat menentukan dalam proses berteologi lokal adalah pelibatan. Hubungan yang terjalin dan praktik yang berlangsung dihargai serta diperhatikan. Pengalaman iman warga sangat penting untuk dihormati dan diberi tempat dalam hidup bergereja.

Diperlukan ruang dan peluang lebih luas untuk dibicarakan dan dibagi bersama. Apa yang dibicarakan bertolak dari pengalaman keseharian. Pengalaman ini diutarakan dalam rangka memahami Injil. Proses berteologi lokal, tidak lain adalah sebuah usaha komunal, dalam rangka memahami Injil dalam hidup sehari-hari.

Pada akhirnya, nama-nama Pradjarta Dirjosanjoto, Pdt. Pudja Prijatma, Josien Folbert disebutkan lengkap dengan alamat email dan nomor HP pada bagian akhir buku kecil ini. Sebuah undangan untuk bergabung bersama dalam praksis berteologi lokal. |seti