panakawan




tapi siapa sebenarnya panakawan ini?
sekelompok karakter yang tidak ikut dalam kisah [narasi] yang dipentaskan.
mereka selalu hadir, dalam lakon apa pun, kisah apa pun.
tapi tidak pernah menentukan jalannya kisah.
hanya oleh hadisugito, nanti mereka ini dibuatkan kisahnya, sperti: petruk dadi ratu, bagong kembar, bagong ratu dsb.

kisah, selalu didominasi oleh para bangsawan. diisi oleh mereka saja. entah kalah entah menang... omnipresent

kalau dalam teater italia, tokoh ini disebut harlequin, arlequin, arlequino
harlequin bisa masuk ke segenap struktur cerita
dia bukan siapa-siapa, bukan bagian dari cerita, tapi tahu banyak segala seluk beluk cerita.
dia adalah medium antara tontonan dan penonton
kadang dia berdialog dengan penonton, dia bisa juga berdialog dengan tontonan
itu peran hebat panakawan
atau harlequin tadi
peran sebagai medium

orang jawa menciptakan mereka ini

orang jawa ketika menerima berabgai pengaruh dan ajaran dari luar, ada jarak antara kisah dari luar itu dengan realitas jawa. lalu, dimasukkanlah di sana peran orang2 lokal, atau WAKIL DARI PENONTON untuk terlibat dalam tontonan.

itu sebabnya maka banyak orang bisa tertawa karena suka dan duka real para penonton dibawa masuk ke dalam tontonan.

seperti kita melihat karikatur, ada realitas yang dimasukkan di koran dan majalah publik

kita seperti bercermin, berefleksi, berspekulasi [speculum=cermin]

merenung

ini ciptaan leluhur kita orang jawa

sekelompok wakil kita itu disebut PANAKAWAN, karena ia hendak mencoba mempengaruhi jalannya cerita dengan menjadi PENASIHAT [PANA=ngerti, terang, jelas, paham, dhong, dan KAWAN=sahabat]

panakawan tidak ada dalam kitab suci

buku tidak butuh adanya peran 'perwakilan' ini

ini hanya terjadi dalam pertunjukan

buku itu dialog satu arah

sedangkan pertunjukan adalah kehidupan, ada interaksi real antara penonton dan tontonan

karena panakawan itu bukan siapa-siapa tapi serba hadir, maka dia disebut juga sebagai dewa.

bukankah itu perilaku manusiawi, ketika berhadapan dengan suatu kekuatan yang nyata pengaruhnya tapi gak jelas apa da siapa, lalu kita sebut dewa?

demikianlah, panakawan pertama itu [semar] selalu dideskripsikan sebagai 'ora lanang ora wadon', unchategorized

dia samar
gak jelas
antara ada dan tiada
dia rakyat jelata namun sekaligus dewa
di beberapa tempat, misalnya cirebon, panakawan lebih dari satu, malah tujuh atau sembilan
karena kebutuhan audiens

yang mengherankan,
mengapa kisah2 kitab suci kresten tidak banyak yang mencoba membuatnya sebagai pertunjukan ya?

mengapa karakter2 dalam kisah suci kita biarkan terpenjara dalam buku?
mungkin untuk mempertahankan karakternya

sebab, begitu dikeluarkan ke pertunjukan, maka akan berhadapan dengan realitas, dan ada kebutuhan untuk munculnya tokoh2 medium tadi, panakawan tadi.

mennyadari peran panakawan seperti itu, sebagai medium, mungkin ini yang perlu diperankan oleh HANA: menjembatani audiens dengan penulis/pembicara. agar interaksinya memperkaya, memperdalam, memperluas pemahaman bersama. apa pun topik yang dibahas.