Panakawan yang terlupakan



Panakawan yang terlupakan

Setiap kali orang menyebut kata Panakawan selalu saja ingatan tertuju kepada Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Keempatnya itu memang Panakawan. Akan tetapi ada juga Panakawan lain, yang juga penting perannya tetapi hampir tidak pernah diperhatikan, yaitu Togog dan Mbilung. Hampir tidak pernah orang menyebut mereka Panakawan. Padahal sesungguhnya mereka itu Panakawan. Perbedaan yang menyolok antara Semar, Gareng, Petruk dan Bagong dibandingkan dengan Togog dan Mbilung adalah, keeempat Panakawan pertama mengabdi kepada kaum ksatria, sedangkan dua yang terakhir mengabdi kepada kaum raksasa.

Sejatinya keberadaan dan peran kedua panakawan: Togog dan Mbilung itu lebih berat dan sulit daripada keempat yang lain: Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Kalau keempat panakawan yang mengabdi kepada kaum ksatria, mereka menjadi penjaga agar para ksatria selalu ingat dan waspada. Para ksatria itu bisa saja lengah sehingga lupa diri. Dalam salah satu lakon dikisahkan Arjuna pernah lengah sehingga lupa diri dan terkena bujukan untuk membunuh Semar. Namun akhirnya Arjuna menyadari kesalahan itu. Sebaliknya para raksasa itu sulit bahkan tidak mau menyadari kesalahan dirinya. Meskipun sudah sangat jelas kesalahan yang dilakukan itu berakibat buruk bagi dirinya, tetapi tetap saja para raksasa nekat melanjutkan kesalahan itu. Dalam salah satu lakon, Rahwana diingatkan oleh adiknya sendiri, Wibisana, bahwa mengambil isteri orang lain itu sungguh-sungguh salah. Akan tetapi Rahwana nekat, bahkan Wibisana dimarahi dengan kata-kata kotor dan akan dibunuh, sehingga Wibisana minggat, menyeberang ke pihak Rama Wijaya.

Karena sifat raksasa yang membabi buta demikian itu keberadaan dan peran Togog dan mbilung sungguh amat sangat sulit. Mereka harus mengingatkan para raksasa tetapi nasihatnya tidak pernah digubris. Akan tetapi mereka harus tetap memberikan peringatan kepada para raksasa itu. Togog dan Mbilung itu sungguh merupakan rakyat di Negara yang dipimpin oleh penguasa otoriter, bengis dan kejam. Di jaman presiden Soeharto rakyat Indonesia pernah mengalami situasi demikian itu. Siapa yang berani menjadi Togog dan Mbilung justru akibatnya hilang sehingga tidak jelas di mana kuburannya atau mati.