nyekar

DSC_0043
saya tulis ini sepulang dari nyekar. nyekar kedua mertua serta simbah-simbah dan saudara lain di permakaman keluarga, di PAMPANG, gunungkidul.

makam itu ada di bukit menghadap sendhang serta membelakangi bukit lainnya yang lebih tinggi. tidak jauh dari bekas rumah simbah, yang kami sebut sebagai MBAH PAMPANG. suatu pilihan tempat makam yang jitu, yang tidak jauh-jauh punya referensi pada janturan ki dalang ketika menjelaskan tempat permukiman yang makmur: "ngungkuraken paredhen, ngeringaken benawi, ngananaken pasabinan, amengku bandaran ageng.."
begitulah,
orang jawa menamai orang dengan lokasi tempatnya berkuasa.
mbah pampang itu pernah berkuasa di sana. berwibawa dan disegani anak-cucu serta masyarakat. dan anak-cucunya membicarakan beliau dengan hormat. anak-cucu itu pun dimakamkan di halaman di bawah makam simbah.
demikianlah, hirarkhi sosial diteguhkan lewat konfigurasi peletakan makam mereka. konfigurasi hirarkhi ini sepertinya berumur lama sekali, melampaui umur para pelakunya.
sebenarnya,
demikian pula dengan tradisi. tradisi itu bukan kerjaan sehari semalam, tapi kerjaan ideologis yang gak tersadari saking sudah mendarah daging dan sudah bekerja diam-diam dalam segenap riwayat anggota pemeluknya. tradisi itu kerangka pemahaman. duluan ada dan tanpanya posisi sosial kita sirna, gak terpahami, dianggap gak ada.
orang jawa, meski menghormati yang sudah tidak ada, tapi fokusnya bukan pada kenangan masa lalu. sebaliknya, justru pada mewujudkan keeratan antara satu saudara dengan saudara yang lain dalam keluarga. tidak heran bila ada saat seperti itu -natalan, lebaran, reuni, syawalan, dsb- mereka juga memanfaatkan untuk nyekar.
nyekar lalu menjadi bagian penting bagi usaha memperat persaudaraan.

nyekar pagi tadi kami maknai kurang lebih begitu itu: meski menghormati orang tua dengan mengenangnya, tapi itu dikerjakan karena anak kami hendak mengerjakan tugas penting, yakni ujian akhir SMA. ujian ini bagi kami penting, demikian pula promosi jabatan kami, hendak mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup dan pekerjaan, yang biasa kami awali dengan nyekar.

pekerjaan yang hendak kami kerjakan adalah pekerjaan 'penyambung' pekerjaan orang tua kami yang menginginkan anak-cucunya jadi berkat bagi sesama. karena kami memahami pekerjaan, tugas kami dalam integrasi dengan misi kedua orang tua kami, maka kami perlu mendatangi dan memberi tanda kehadiran kami di makamnya melalui taburan bunga dan doa.

doa-doa kami pun menjelaskan itu, menjelaskan mengenai kedudukan tugas yang hendak kami emban dengan cita-cita kedua orang tua, yang adalah kepanjangan tangan tuhan dalam membawa berkat bagi dunia. doa ini harus terdengar dengan jelas pada pendengaran kami yang nyekar. diartikulasikan dengan jelas agar para pendengar pun paham mengenai makna pekerjaannya dalam integrasinya dengan usaha orangtua dan pekerjaan allah di dunia.

mbah pampang yang kami sekar tadi adalah lurah di masanya. menantunya, yakni ayah dari istri saya, adalah camat di beberapa tempat di gunungkidul. juga orang yang diberkati pada masanya. mereka juga menjadi berkat bagi sesamanya.

lalu mengapa harus nyekar pakai bunga, anak saya bertanya.
nyekar dengan bunga, selain mengharumkan tempat yang biasanya lembab kotor tak terurus itu, juga mempercantiknya. kami nyekar dengan selalu mengawali dengan menyapu dan mengelap nisan dari daun-daun luruh dan debu yang berkerak di sana.
itu cara visual mengenai bagaimana kami menghormatinya. yang dengannya kami juga bisa jenak bicara dan menerangkan hal-ihwal mengapa kami perlu nyekar sebelum memulai suatu karya. tempat yang bersih, indah itu menyenangkan untuk bicara-bicara hal penting seperti itu.
sudah dari dulu, moyang orang jawa mendisain makam untuk yang nyekar. agar mereka senang di sana, senang untuk mengenang integrasi pekerjaan mereka di dunia dengan cita-cita orang tua dan rencana agung tuhan. kita dibikin selalu berada dalam integrasi dengan mereka.

begitulah, meski kami menabur bunga untuk yang sudah tiada, tapi harum dan indahnya bunga serta tempat di mana makam berada itu hanya bisa dinikmati oleh yang masih hidup. oleh mereka yang menghormati yang sudah sumare di sana.

nyekar itu menghormati yang sudah duluan ada -termasuk tradisi- yang membuat kita menyelesaikan tugas kita di dunia sekarang ini dengan penuh makna. tahu sangkan parannya, tahu tujuan dan maknanya mengapa harus dikerjakan. dan dari dulu, orang jawa selalu melibatkan tuhan dan orang tua.

memutus keterlibatan itu berisiko alienasi, disorientasi, gak tau sebab musabab mengapa kita harus ada di dunia!