Nggenthileng

"Pak, penjenengan niku jan, ketingal nggenthileng"
-mbah kromo sogol





"Nggenthileng niku tegese napa to, Mbah?" tanyaku pada Mbah Kromo sebelum kebaktian Sabtu Sunyi dimulai.

"Nggenthileng niku, cara mriki tegesipun panjenengan niku ketingal langkung sehat, bergas, canthas, resik, ngaten lho Pak... Mangke penjenengan dangu-dangu rak ngertos tegese tembung-tembung cara Ngentakrejo ngriki...", terang Mbah Kromo.

"Wah, matur nuwun Mbah menawi kula ketingal nggenthileng, langkung resik lan sehat, bergas lan canthas", aku pun menanggapi kata-kata Mbah Kromo sambil tersenyum lebar. Padahal, biasanya kalaupun harus tersenyum, rasanya aku tidak lebar-lebar amat. Namun, kali itu berbeda. Karena aku tak bisa sembunyikan rasa sukacita, menyimak tuturan Mbah Kromo. Pak Pendhito Ngentakrejo nggenthileng. Ha7x...

Mbah Kromo sudah sepuh. Usianya sudah mendekati angka 90. Namun, rajin sekali ke Gereja. Seperti malam itu, dengan selalu membawa senter, menempuh perjalanan hampir 1 km, dengan berjalan kaki. Bahkan, ketika agak meriang namun masih kuat berjalan, beliau tetap ke Gereja. Minta didoakan, dalam suatu acara persekutuan doa.

Kalau di Gereja biasa duduk di depan, di bangku yang baru. Ya, di Gerejaku, baru ada dua bangku yang baru. Mbah Kromo suka duduk di situ. Ketika kukonfirmasi,"Milih wonten ngajeng pancen langkung meso, nggih Mbah?" Mbah Kromo pun mengiyakan. Meso adalah ungkapan khas di Ngentakrejo yang dekat artinya dengan kata lumayan. "Menawi teng wingking, kula kirang terang yen mirengke khotbah, Pak nDito" demikian keyakinan beliau.

Luar biasa, itu yang kurasa. Usia yang sudah sepuh tidak menghalangi kerinduan hatinya untuk mereguk daya sang sabda. "Bagaikan rusa merindukan air", kiranya itu yang menggelorakan jiwanya.

Kembali ke soal nggenthileng. Benar-benar membuat hati penasaran. Apa gerangan arti sesungguhnya? Kubuka Baoesastra. Ternyata, nggenthileng punya hubungan dengan panyandra untuk mata. Nggenthileng menggambarkan ketajaman mata. Sorot mata yang tajam, menembus sukma, itulah maknanya.

"Hmm... matur nuwun nggih Mbah, Penjenengan sampun mberkahi kula kanthi tembung nggenthileng." Aku lalu membayangkan wajah Mbah Kromo. Sayang, beliau belum sempat aku foto. Suatu kali, pasti wajah itu masuk kartu memori. [seti