Misteri Agama Jawa

Pikiran kejawen ini mempunyai suatu ciri religius mendalam, yaitu kesadaran bahwa semua yang ada turut ambil bagian dalam kesatuan eksistensi serta ketergantungan pada suatu prinsip kosmis yang meliputi segala-galanya dan yang mengatur hidup manusia. –
Niels Mulder








Adalah Niels Mulder, seorang Belanda yang menulis buku berjudul Di Jawa: Petulalangan Seorang Antropolog. Buku tersebut diterbitkan Kanisius. Sejujurnya, kalau buku tersebut tidak didiskon besar-besaran, ada kesulitan khusus untuk mendapatkannya.
Bagiku cover buku tersebut menarik. Ada gambar kereta kuda khas Jogja, dengan lampu  bertiang gaya kraton. Terbayang, isinya pasti menarik juga. Apalagi kalau menyimak judul aslinya. Doing Java An Anthropological Detective Story. Tambah bikin penasaran.
Yang mengecewakan adalah ketika melihat daftar isi. Bayanganku akan menemukan kata-kata kunci tentang ke-Jawa-an. Eee ... malah nama-nama bulan: Mei, Juni 1, Juni 2, Juli, Akhir Juli, dst. Buku yang aneh. Lama-kelamaan barulah kumaklum. Bahwa buku tersebut ditulis berdasarkan fieldnote. Pikiranku pun jadi manut, untuk menyimak dan lanjut membacanya.

Ternyata, Niels berkisah banyak tentang cara beragama orang Jawa. Termasuk hal-hal yang dipercayai, tentunya. Maka, mau tidak mau, dia pun harus menyimak kisah tentang hal-hal yang berbau magis dan mistik dari narasumbernya. Sampai-sampai ia merenung hingga mengerutkan dahi. Batinku pun bertanya, “Mengapakah seorang profesor berpendidikan Belanda yang sangat terpelajar ini masih berurusan dengan sesuatu yang berbau magis dan mistik?”

Tapi jangan salah. Pengalaman Niels itu juga menjadi pengalamanku. Kata tetangga sekitar dan warga jemaat, Pastori yang aku tempati di kompleks GKJ Ngentakrejo itu juga angker. Banyak penunggu yang kasat mata. Cerita yang selalu diulang tiap bulan Desember adalah kisah Pak Polisi yang ketakutan ketika berjaga-jaga di Gereja pada malam Natal. Kisah itu terjadi waktu aku belum di Ngentakrejo. Mendengar bunyi-bunyian di dapur, eee... ketika ditengok tidak ada.
Ternyata Pak Polisi yang berpistol pun bisa takut dengan hantu (ih ih ih..hi hi hi). Belum lagi kata anak tetangga Gereja yang indigo. Namanya Lintang. Ia mempunyai teman main “makhluk halus” dari Pastori namanya Tutut dan Tina. Karena ibunya ketakutan, kemampuan ini ditutup melalui pertolongan Romo Pasturnya. Mereka dari keluarga Katholik.

Aku bertanya-tanya, jangan-jangan Tutut dan Tina ini yang berkenalan denganku dengan memijit kakiku. Itu terjadi pada awal aku tinggal di pastori. Desember 2011. Waktu itu aku merasa kurang enak badan, dan mereka memijiti kakiku. Namun antara sadar dan tidak sadar, karena di alam mimpi. Anehnya, pagi harinya badanku segar lagi. Jangan harap pengalaman semacam ini bisa diulang.
“Pengalaman dalam mimpi, ketika itu jelas, baik juga untuk disadari”, kata pembimbing spiritualku. Maka, puja kala fajar waktu itu pun aku fokuskan dengan meditasi vipassana. Dengan harapan, antara cipta dan rasa menemukan keseimbangannya yang dinamis.

Kembali pada paparan Niels, sekalipun dia tidak bisa mengabaikan kisah-kisah semacam itu, ia tidak mau kehilangan fokus pada tema penelitiannya. “Penelitianku berfokus pada orang-orang yang secara sadar memilih menjalani kehidupan beragama”, katanya. Mengapa kehidupan beragama di Jawa menarik?
Keberadaan agama Jawa adalah rahasianya. Konon, sebelum agama Hindu masuk, agama Jawa ini telah lebih dulu ada. Semua narasumber Niels sepakat bahwa agama Jawa yang disebut kebatinan (kejawèn), pada hakikatnya adalah sifat Jawa yang berasal dari masa yang sudah lama sekali berlalu. Anehnya, serbuan agama impor tidak bisa menenggelamkan eksistensi agama Jawa ini. Kebatinan atau Kejawèn, karenanya menjadi konteks yang penting bagi kekristenan. Pak Pradjarta yang antropolog itu seringkali mengingatkan hal ini tiap kali berdiskusi soal teologi lokal Gereja Kristen Jawa. |seti