Masih Mencari Arti Paskah Sejati




Kan sudah jelas, paskah itu harfiahnya berarti dilewati. Dilewati TUHAN pada suatu malam, dan tidak mendapatkan tulah kemusnahan (Keluaran 12:13).

Kan sudah mafhum, paskah itu adalah hari kemenangan. Karena Kristus telah melewati alam maut melalui kebangkitan-Nya. Itu pula yang membuat perayaan liturgi semarak di berbagai Gereja. Nah, mengapa masih harus mencari arti paskah yang sejati? Jangan ngaco, deh…

Tidak Ngaco kok…

Ya, ini benar. Tidak ngaco. Arti paskah sejati masih harus terus dicari.
Coba pikir gais, apa arti kemenangan Kristus ketika dunia mengalami krisis peradaban. Apa arti kemenangan Tuhan ketika lingkungan hidup makin terancam?
Mari tengok roh zaman ini. Bukankah budaya perang dan bukan budaya damai yang semakin dipuja? Teknologi dan persenjataan perang dicipta dengan makin canggihnya. Beberapa negara ingin melindungi diri dengan persenjataan nuklir. Padahal, hal ini bisa berarti dengan memusnahkan yang lain. Lebih tepanya memusnahkan segala makhluk hidup.

Alangkah ngeri dampaknya, bila kiblat bangsa-bangsa masih bertumpu pada perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan. Dari penguasaan terhadap sumber-sumber ekonomi hingga penindasan terhadap agama dan kebudayaan setempat. Perjuangan jenis ini hanya akan melahirkan kesenjangan tak berujung.

Akan berbeda halnya bila bangsa-bangsa berkenan mengarahkan hatinya pada perjuangan peradaban dan kesejahteraan semua makhluk. Nilai-nilai kesetaraan, keadaban publik, kemanusiaan sejati, kelestarian lingkungan, menjadi sumber tindak-tanduknya. Bahwa semua makhluk itu berharga di hadapan Sang Pencipta menjadi titik kesadarannya.

Menemukan Arti Paskah yang Sejati

Andai saja, perihal kemajuan teknologi pertanian demi kelestarian pangan menjadi prioritas. Kalau saja, teknologi ramah lingkungan menjadi anak emas bersama semua lapisan dan golongan masyarakat bumi ini. Tentulah, bagi orang kristiani, kemenangan Kristus dari kematian pada hari Paskah pun menemukan arti sejatinya.

Paskah adalah harapan bagi semua makhluk untuk hidup bersama dalam keadaban publik tanpa sekat kasta dan agama. Paskah juga merupakan perayaan kehidupan bersama bagi berlangsungnya kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan. Toh, cinta Tuhan yang menjadi alasan kedatangan-Nya ke dunia tidak bertumpu pada agama tertentu!

Justru karena itu, paskah tidak boleh terpisah dari kekinian. Makna paskah tidak boleh dipenjara dalam teks kitab suci. Paskah harus berbicara tentang kegelisahan zaman ini. Dan, paskah harus menjelajah semesta raya. Bergerak bersama memayu endahing jagad pramudita.

Memaknai Eksistensi Paskah Sejati

Paskah, nyata-nyata bukan semata perayaan. Sekalipun peristiwa paskah merupakan induk dari semua perayaan liturgi Gereja. Eksistensi paskah sejatinya memerlukan panggung kehidupan sehari-hari. Panggung yang menyuarakan perjuangan peradaban dan kesejahteraan semesta.

Perjuangan peradaban dan kesejahteraan semesta tidak identik dengan suara-suara serba lantang. Apalagi suara-suara yang menantang. Alih-alih, perjuangan itu bisa ditempuh dalam hening. Saat hening dalam masa paskah mendapatkan porsi yang besar. Terutama ketika Gereja memasuki tri hari suci paskah.

Ketika memasuki taman Getsemane, Kristus menempuh jalan keheningan. Alam doa yang diakrabi-Nya. Ketika di pengadilan, diam yang dipilih-Nya. Dan, itu berlanjut ketika menempuh jalan salib hingga puncak Golgota. Akhirnya, kesempurnaan jalan keheningan itu adalah ketika memasuki alam maut. Serentak dengan itu, Gereja memperingati dengan ritual Sabtu sepi nan sunyi.

Nah, mengapa pada Sabtu sepi itu tidak dipakai untuk memaknai eksistensi paskah sejati? Andaisaja, Sabtu sepi menjelma juga menjadi gerakan amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Bila saja, bersama sepinya hari Sabtu dalam tri hari suci paskah, ada jeda. Ada waktu istirahat bagi sumber-sumber energi untuk dinantikan kebangkitannya. Ya, kalau saja …. |seti