malioboro, malyabhara



dalam dokumen-dokumen sejaman ketika berdirinya kota dan kraton yogyakarta, tidak dijumpai nama malioboro atau malyabhara. karena itu kita tidak tahu kapan dan oleh siapa jalan yang membujur dari muka kraton hingga ke tugu putih itu dinamai demikian.
namun, pada masa kini, nama jalan itu sedemikian penting sebagai atribut identitas kota yogyakarta. orang ke yogyakarta baru dianggap sah bila sudah ke jalan itu. lihatlah bagaimana orang berebut -sekarang mengantri- untuk berfoto selfie di papan nama jalan malioboro tadi untuk menyatakan bahwa dia sudah sampek yogya.

jalan malioboro ini adalah jalan seremonial. yang seperti urat saraf utama di punggung kita, ia merupakan pokok yang padanya banyak jalan cabang dan gang-gang ranting berinduk. malioboro menumpahkan ruangnya ke alun-alun, lapangan di depan kraton yogyakarta. bila dirunut sejak dari tugu putih hingga ke alun-alun, malioboro sebenarnya terdiri dari beberapa penggal jalan yang terangkai jadi satu kesatuan visual.

menurut peter carey, malioboro mungkin terjadi dari nama malyabhara, rangkaian bunga. nama yang dikenal dalam pustaka kuna sebelum kota ini didirikan, tapi tidak atau belum terjumpai dalam dokumen-dokumen sejamannya.
tidak banyak, atau malah mungkin satu-satunya jalan di indonesia yang punya posisi dan peran seperti ini, di mana kraton secara berangsur-angsur dalam suatu prosesi dihampiri orang. suatu ekplorasi ruang linier yang umum di barat di masa barok (1600-1750), masa yang bersamaan waktunya dengan berdirinya kota yogyakarta (1755)!

lha mosok sih mereka ngajari kita bikin kota yang menggunakan prinsip barok?
hehehe... entahlah.