kenduri

Salah satu warisan leluhur yang layak dilestarikan adalah kenduri. Orang Jawa menyelenggarakan kenduri untuk berbagai kepentingan, yang berkaitan dengan daur hidup maupun kebersamaan. Upacara kelahiran termasuk pemberian nama, sunatan yaitu upacara inisiasi atau tanda kedewasaan, pinangan atau pertunangan, pernikahan, di saat-saat tertentu seseorang mengandung khususnya  waktu umur kandungan 3 dan 7 bulan, kematian: 3, 7, 40, 100 hari, mendhak pisan (setahun), mendhak pindho (2 tahun) dan seribu hari seseorang meninggal dunia, juga waktu merayakan panen, menebus desa (bersih desa), dsb orang menyelenggarakan kenduri.

Sayang kenduri itu dicurigai sebagai upacara yang “dosa” bahkan dihubungkan dengan penyembahan berhal atau setan. Orang Kristen dan Muslim tertentu menolak kenduri. Akibatnya di dalam masyarakat ada pembatas yang memisahkan orang ke dalam kelompok yang menganggap diri “suci” atau “bersih” atau “murni” dan kelompok yang dianggap “tercampuri” atau “kotor” atau bahkan “penyembah berhala/setan.” Hubungan antar anggota masyarakat yang tinggal dalam wilayah yang sama (dusun, rt, rw) bisa diwarnai ketegangan.

Kenduri sejatinya adalah upacara makan dan minum bersama yang sangat bermanfaat untuk mempererat persaudaraan, memperkuat kebersamaan yang diwarnai kehidupan yang rukun-ramah, damai-sejahtera. Bagi orang Jawa makan dan minum itu bukan hanya soal menelan makanan atau menenggak minuman. Minum misalnya diberi arti memanggil atau mengajak (ber)saudara. Wedang (minuman) adalah singkatan dari We yang diberi arti ngawe, memanggil, mengajak, dan Dang yang dimaknai kadang, saudara. Demikian juga tentang perihal makan bersama. Dahulu orang di desa makan bersama itu dilakukan dengan cara nasi lengkap dengan lauk pauknya digelar di atas daun pisang yang digelar memanjang lalu orang duduk di sekitar makanan yang telah digelar itu dan mereka makan dengan tangan (Jawa: muluk) tanpa sendok langsung dari gelaran makanan di atas daun pisang itu. Suasana rukun sangat terasa sekali di acara makan bersama itu. Sekarang memang di desa pun cara demikian itu sudah tidak ada. Makanan disajikan dalam piring dan orang memakan dengan sendok. Akan tetapi makan bersama masih diberlangsungkan. Sekali lagi sayang ada orang beragama yang menolak kenduri sehingga makin lama kenduri makin ditinggalkan.

Kenduri layak dilestarikan bahkan semakin dikembangkan sebagai cara atau sarana untuk mempererat persaudaraan antar anggota masyarakat berbeda agama, pilihan politik, kemampuana ekonomi, dsb yang tinggal bersama di wilayah tertentu: dusun, rt, rw, dsb.

pengetan mendhak
Berikut ini disajikan salah satu cara menyelenggarakan kenduri oleh orang Kristen ketika memperingati kematian anggota keluarganya .