Kalahayu dalam Peristiwa Kebangkitan Kristus


Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” (2Korintus 6:2)


Kalahayu sebagai Momen Indah


Kala adalah waktu. Bisa juga diartikan momen, atau masa. Hayu disebut juga rahayu, yang berarti keselamatan. Kalahayu menjelaskan tentang eksistensi sang waktu. Tentu bukan sembarang waktu. Karena kalahayu adalah waktu yang istimewa atau momen yang indah. Mengapa indah? Sebab ada perkenan Allah.


Allah berkenan mementaskan kisah penyelamatan dalam panggung dunia. Tidak ada kisah yang lebih indah kecuali waktu Allah berkenan menyelamatkan dunia melalui karya Sang Putra tercinta. Paling tidak, itulah yang diimani orang kristiani. Putra tercinta Bapa harus menderita sengsara hingga mati di Golgota sebagai akibat dosa-dosa manusia. Tentu letak keindahan kisah tidak berada pada titik ini. Kalahayu menemukan wajah indahnya dalam peristiwa kebangkitan Kristus. Peristiwa ini terjadi pada Minggu Paskah.


Kalahayu dalam Peristiwa Kebangkitan Kristus


Paskah, yang berasal dari tradisi Yahudi memiliki arti “dilewati”. Dikisahkan dalam Kitab Keluaran, ketika TUHAN melihat darah pada ambang atas dan pada kedua pintu umat Israel, maka TUHAN akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumah.


Peristiwa Paskah adalah saat Tuhan melewati setiap rumah umat Israel sebagai kalahayu. Ini berbeda dengan rumah-rumah orang Mesir yang harus mengalami kalaruditya. Waktu yang menyedihkan karena setiap anak sulungnya mendapat tulah dari TUHAN.


Ketika pada perayaan Paskah bangsa Yahudi, Kristus menerima hukuman mati di kayu salib, ternyata memiliki cerita tersendiri. Pada saat itu Kristus turun ke dalam kerajaan maut. Kristus menjejakkan kaki di sana yang membawa perubahan paradigma. Bila semula alam maut dianggap menyeramkan, sejak saat itu berubah menjadi alam penantian. Alam peralihan menuju kehidupan kekal. Maut tidak lagi punya sengat untuk memerangkap setiap jiwa yang percaya pada pada Kristus. Mengingat, Kristus bangkit dari kematian!


Peristiwa kebangkitan Kristus ini merupakan jantung iman kristiani.


“The resurrection is the heart of our Christian faith, because here we see that there is more to life than we can perceive in our daily lives”,

terang Howard L. Rice and James C. Huffstutler dalam buku Reformed Worship. Tak pelak, segala upacara keagamaan dan ritual kristiani berpangkal dari keyakinan iman tersebut. Hal yang paling mudah dikenali adalah tradisi kebaktian pada hari Minggu. Padahal, sebelumnya kebaktian diselenggarakan pada hari ketujuh (Sabat).


Kebaktian hari Minggu Merayakan Kalahayu


Mengapa hari pertama (Ibr: Ehad atau Minggu) dan bukan hari ketujuh (Sabat) dipilih menjadi hari perkumpulan ibadah (kebaktian) oleh Gereja Perdana? Hal tersebut tidak terlepas dari pemaknaan di seputar kalimat “Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu …” (Matius 28:1, Markus 16:1). Sebagaimana diketahui bahwa keterangan waktu itu menunjuk pada hari kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian. Keterangan yang memiliki makna simbolis sangat kuat. Karena itulah momen terindah. Kalahayu!


Pemaknaan atas kalahayu itu membawa konsekuensi logis. Bila semula orang-orang Yahudi-Kristen berbakti pada hari Sabat, lama-kelamaan memilih hari pertama (Ibr: ehad, Arb: ahad) atau hari Minggu. Hari yang menjelaskan kalahayu dalam sejarah karya penyelamatan.


Hari Minggu sendiri berasal dari bahasa Portugis domingo (Perancis: dimanche). Istilah domingo ini diturunkan dari bahasa Latin dominica, yang akarnya adalah Dominus (Tuhan). Jadi, hari Minggu berarti hari Tuhan (Latin: Dies Dominica). Ini pula yang menjadi alasan, mengapa hari Minggu akhirnya diperuntukkan untuk menghormati, memuliakan dan menguduskan Tuhan yang bangkit. Nuansa sukacita mendapat tempat istimewa dalam pertemuan kebaktian Minggu. Tidak heran bila selama masa prapaskah pun, pada hari Minggu tidak dianjurkan untuk berpuasa. Demikianlah, kebaktian hari Minggu merupakan kalahayu yang dirayakan dalam liturgi Gereja. |seti



kakintun kinanthi sêmbah bêkti dumugèng megatruh