hana ide ketika mbanguntapane




Kanggo kayuwanan indie, ayo rapat dhisik wae, karo ngopi. Ana Ygy ya, kapan?

(YTP)


Lontaran ide dari YTP di atas pantas disimak. Mengingat, dia sering bertapa di grup WA hana. Tidak terlalu rajin berkomentar, kadang-kadang bahkan ngilang tanpa jejak, seiring dengan modus silent yang jadi pilihannya.

Untungnya, ide tersebut bersambut dengan antusiasme. Dialah orang dari mBanguntapan, yang suka lakon Semar Mbangun Kahyangan. “Ngopi, saya punya kopi2 enak. Rumah saya boleh dipakai”, sabda Sang Maha setelah nyetir. Maka, idepun terus mengalir melalui hanané clometan. Sampai-sampai orang dari Bekasi Timur berpikir keras. Simaklah keseriusannya, “Wah, takpikir2 sik yo. 10-11 jam nyetir dhéwé jeee.” Hal mana memang beda dengan DSP, sang teolog pepethan. Tanpa pikir panjang langsung mak jeprèt:”Siap mudhun… meljncur.”

Untuk Argo, karena belum menikah, Sang Maha punya aturan khusus. Sekalipun kala berkunjung ke Puri Potorono Asri B-16 boleh ngajak cewek, Sang Maha tetap wanti-wanti: “Nek Argo ngajak ibune ya aja.”

Puri Potorono asri B-16

Malem Jemuwah Pahing, 16-17 Maret 2016 dipastikan ada pertemuan di Puri Potorono asri B-16, Banguntapan, Bantul, yang berkoordinat -7.826245, 110.427919 atau 7o49’34.5”S 110o25’40.5”. Adalah berkat kyaine yang bersabda,”Siiippp aku melu keplok  tanpa mbengok haleluyah utw slloh hu akvar kuwi malah nyenyamah.”

Mencari titik koordinat di atas tidaklah sulit. Semua biker berpengalaman seperti Seti, YTP dan Dav dengan keahliannya segera menemukan TKP. Sayangnya, kedatangan Seti tak bisa memberi kejutan berarti, mengingat sudah terperangkap radar Sang Maha. “Pak Seti terlihat pake jaket kulit. Bener? Tunggu ya pak…” Tak ayal, YTP pun berkomentar,”Aku nunggu Seti, jebul malah ditinggal.”

Maklum, perjanjian berangkat bersama dari LPPS batal, karena Sang CB mati lampu ketika sampai di Jalan Parangtritis. Untungnya cukup dengan mengurut kabel bisa diatasi, sekalipun perlu waktu sejenak bertapa di pinggir jalan raya. Ternyata YTP yang diprediksi akan datang paling awal di Potorono terlambat membaca WA yang berisi tentang pembatalan berangkat bersama dari LPPS.

Sio May

Baru saja duduk, setelah bersalaman dengan Ibu Mahatmanto, YTP langsung njujug ngrembug bab media. Pengalaman beliau ketika pernah menjadi Sekum Sinode GKJ XXIV menjadi konteksnya. “Sinode GKJ sudah punya web, FB, milis GKJnet, milis pdtgkjonline. Selama ini, pontensi yang sudah dipunyai itu belum maksimal. Diskusi yang terjadi sering tanpa ujung dan pangkal. Milis yang semestinya menjadi ajang diskusi mendalam sering hanya berisi ha ha ha dan sekedar hi hi hi. Mengapa hal semacam bisa terjadi?”

“Ya kenapa itu terjadi?” Sang Maha tetap mempertahankan pertanyaan tersebut. Disadari bahwa peran redaksi (dhi pendeta literatur yang akan dikaji) yang memiliki wewenang untuk memoderasi percakapan diskusi menjadi penting. Dengan adanya rekaman diskusi yang terus bisa direfleksi ulang bersama, maka fungsi utama media untuk memobilisasi gerakan karya penyelamatan akan terjadi. Selama ini pikiran-pikiran baik sering menguap tanpa asap.

Untunglah, sebelum terlalu serius membahas media, biker dari Ceper datang. Tak lama berselang, Ibu Mahatmanto menyampaikan messageyang maha penting. “Makan dulu, Sio May sudah siap.” Dav yang baru saja datang didaulat untuk memimpin doa syukur biasa sebelum menikmati Sio May yang sedari tadi menjadi pengamatan serius YTP.

Doa syukur dari pendeta yang mirip Ridwan Kamil ini ternyata memiliki keampuhan tak terkira. Bayangkan saja, rombongan DSP yang tibathemil sampai-sampai ketika mencicipi Sio May sangat tergantung dari doa Bro Dav tersebut. “Aku dongane nunut sing ngarep mau”, demikian pengakuan tulus dari DSP setelah piringnya penuh Sio May.

Ritual Ngopi

Bunyi berisik di sela-sela menikmati Sio May tadi ternyata berasal dari gilingan kopi di tangan Sang Maha. Kini kopi telah siap. YTP langsung ngiling dengan semangat, setelah tahu didahului Seti dan Dav. Seperti lagaknya orang yang punya pengetahuan banyak tentang kopi, si pemulung cerita ini pun langsung bercerita tentang pengalamannya minum kopi. “Arabica itu kecut. Paling kecut itu kopi Toraja. Tapi ini kok tidak terlalu kecut, ya...”

Sesekali si Dav memberi komentar, bergantian dengan Sang Maha. Bahwa keduanya punya pengalaman ngopi yang handal, kiranya tidak bisa diragukan. Sampai-sampai seorang teolog pepethan seperti DSP pun tertarik untuk nggiling kopi hingga menyajikannya. Tidak sadar kalau dia sedang diplekhoto menjadi tukang nggiling kopi, layaknya Argo.

Ritual ngopi ini harus diakui sangat menyedot perhatian. Sampai-sampai pembahasan soal media sepertinya tidak terlalu menarik. Mulat pergeseran paradigma demikian, Sang Mah pun memberikan tongkat bersuara kepada YTP untuk melanjutkan clometannya yang tadi terhenti.

Jurnalisme Gerejawi dalam Konteks Multi Media

“Siapakah penguasa?” tanya YTP. Zaman dulu adalah raja yang mengaku keturunan dewa. Berikutnya adalah para pemilik modal, kemudian pemilik informasi. Contohnya Surya Paloh. Ia menguasai informasi, memiliki media koran hingga TV, yang menghantarnya mendirikan partai politik.

Pada zaman orde baru, kekuasaan Soeharto ditopang oleh media tunggal, yakni TVRI yang makin efektif melalui sang mentri penerangan. “Bapak saya sudah lama berlangganan koran KOMPAS. Ketika koran itu dibreidel dan harus membaca koran pemerintah, Bapak pun menjadi kritikus pada zaman anak-anaknya”, YTP menyisipkan pengalaman masa kecilnya untuk masuk pada pembahasan soal kekuatan media pada era internet.

“Sekarang web tidak bisa dibreidel. Medsos merupakan contoh betapa semua orang adalah subyek. Dari medsos ini kemudian melahirkan trending topic. Nah, jurnalisme Gerejawi karenanya perlu memiliki semangat pastoral transformatif. Menempatkan semua orang sebagai subyek.”

“Kalau begitu, pilihan kita, web desainnya seperti apa? Blog, forum, …?” tanya Sang Maha. “Mari kita lihat kaskus. Sekarang telah sedemikian terorganisir dan tersistematisir. Forum itu sekarang telah menjadi milik bersama, menjadi rumah bersama. Ketika ada yang tipu-tipu, maka ditimpuk bata secara berjamaah.”

“Untuk mengikat rasa handarbeni dikasih cendol”, bro Dav menambahkan.

“Sebelum lebih jauh, kayuwanan online selama ini potretnya seperti apa?”

DSP lalu bercerita panjang lebar tentang eksistensi kayuwanan online yang ngelink sana-sini, diselingi informasi tentang sahabat sinode yang bisa diskusi ramai soal topik-topik tertentu. Namun, lagi-lagi adalah masalah dokumentasi topik hingga perkembangan ide itu bagaimana. Hal ini mengait dengan pentingnya kebangkitan kekuatan media untuk memobilisasi gerakan.

“Kembali pada kaskus, bagaimana akhirnya mereka bisa menata isu dan isi, lengkap dengan dokumentasi?”

“Mereka sudah dua puluh tahun. Kita baru akan mulai”, YTP mencoba menarik relevansi. “Tentu kita perlu keberanian untuk mulai.”

“Paskah?”

“Belum pas”

“Sudah pas”

“Nah, energi untuk memulai ini memang sangat besar.”

“Sebelum ke sana”, Sang Maha menyela. Detik.com, kompas.com, memiliki gaya yang berbeda. Termasuk historia.id yang memiliki keberpihakan sangat jelas. Kompas.com memiliki ruang-ruang yang makin banyak dan makin hidup. Keberadaan forum warga (kompasiana) tidak bisa diabaikan.

“Berarti identitas menjadi penting sebagai penanda dan pemikat. Kompas seperti itu, jelas. Detik dan juga historia.”

“Secara umum, web bisa dimetaforkan dengan rumah, yang memiliki ruang-ruang yang bersifat tetap. Minimal ada lima ruang.”

“Kita sudah bicara soal rubrikasi, berarti.”

“Setiap ruang perlu dijaga. Dan ini butuh energi. Kita perlu mengukur diri. Terutama untuk setia mengisi rubrik secara kontinyu….”

“Lha kita mau model bagaimana?”

“Iya, tadi ada beberapa pilihan. Harus diingat, pembaca adalah subyek. Bagaimana melibatkan mereka?”

“Diberi ruang komentar hingga undangan untuk turut berpartisipasi menyampaikan opini.”

“Sebagai sumber inspirasi, kita manfaatkan kalender gerejawi sebagai mesin waktu yang selalu melahirkan ide. Irama upload harian hingga mingguan perlu menjadi perhatian. Mengingat kalau jarang upload, irama harian tidak dijaga, tentu menjadi web yang sangat membosankan. Pentingnya tim dari grup hana ini kiranya bisa menjawab kebutuhan web ini.”

“Kuncinya adalah kata “relevan.” Bagaimana kalender gerejawi itu bisa berkisah, menyapa, hingga melibatkan pembaca. Terutama untuk memaknai hidupnya. Dengan begitu isian rubrik di web akan selalu ditunggu-tunggu….”

[Jangan dibayangkan bahwa diskusinya begitu serius. Kadang suara omongan harus berlomba dengan suara kopi digiling, belum lagi ketika YTP mulai mengusili DSP ketika sedang khusyuk]

“Kopi-kopi…”

“Kene aku njaluk… tak iling neng gelasku yo… he5x”

“Aku wis iso mbayangke, arep nulis soal pelayanan literatur GKJ. Perspektife bisa dari sejarah tokoh hingga isu-isu yang terus bergulir.”

“Berarti sudah ketemu pengawal rubrik. YTP siap menyajikan sebagai headline web, semacam tema. Ini bisa disoroti oleh rubrik-rubrik lainnya. Pilihannya headline muncul mingguan atau bulanan?”

“DSP dengan rubrik foto humanioranya. Bisa diposting via grup hana, untuk doclometi, njuk lair narasine…”

“Bisakah Paskah launching?”

“Kalau bisa, ide YTP tadi bisa dipertajam menjadi tema. Misalnya: Kebangkitan Pelayanan Literatur GKJ. Biarlah momen Paskah menjadi momen kebangkitan pelayanan literatur.”

“Sik-sik, cah… iki nggawa-nggawa jeneng GKJ. Kamangka awake dhewe kuwi indie. Lha mengko piye mbek kewenangan bapelsin?”

“Ibarat hana bayi lair, perlu slametan. Kita kabarkan tentang kelahiran web ini kepada mereka. Toh, kita ini jugak bagian dari GKJ. Tinggal, ruang kosong apa yang hendak kita isi melalui eksistensi media ini.”

“Keberpihakan kita dimana?”

“Menyimak gagasan PDS, ya umat. Perspektifnya teologi lokal.”

“Kalau dari dunia arsitektur, kami berpihak pada warisan, tradisi kultural, dan ekologi. Tradisi lokal itu punya daya tarik, karena unik. Misalnya historia yang bisa memotret lewat cerita tentang hal-hal yang sepele, namun bisa tersaji dengan menarik.”

“Apa nama webnya?”

“Sebaiknya jangan kayuwanan. Itu sudah melekat dengan institusi GKJ.”

“Tetap HANA saja. Namun jangan dilupakan bahwa nama tersebut mengakar dari konteks kejawaan. Maka perlu ada penjelasan singkat tentang apa dan siapa HANA.”

“Kyaine wangun yen nulis soal kuwi. Harap Sang Maha mengirimkan contoh dari blognya, yang menjelaskan tentang blog itu, sebagai penanda dan pemikat pembaca. HANA ki seperti ini, bukan seperti itu…”

Menyoal Tema Perdana dan Rubrikasi

[wis dina Jemuwah cah…]

“Irama rubrikasi perlu dijaga. Rubrik mana yang harian, yang mingguan, hingga bulanan. Mungkin contoh-contoh web yang ada bisa disimak sebagai bahan pertimbangan. Sebaiknya ada keunikannya.”

[Sekilas info, kalo kayuwanan berisi: pagane kayuwanan, salam kayuwanan, nawala warga, damaring gesang, gandang, ngudhar gagasan, ngudar rasa, pancer, dalem pamujan, sembah puja bhakti, kawruh budaya jawa, craken, dadakan, srawung, rontal, kripik banyumasan]

Sebelum menemukan ide tentang nama rubrik, paling tidak ada semacam ini:

“about hana” mula bukane laire hana ki priye

“opini” yang mengupas habis-habisan tema (pilihan: mingguan atau bulanan). YTP telah siap empat naskah berurutan untuk opini.

“renungan harian” berdasarkan bacaan harian untuk menjaga irama harian. [Seti akan mengawali, gentenan mbek si Dav]

“cerita dan peristiwa” untuk menampung perspektif teologi lokal dalam memotret hingga melukiskan peristiwa sehari-hari [bisa lebih dari satu postingan]



Tema: “Kebangkitan Pelayanan Literatur GKJ”

Terbit: pas paskah subuh, kaya gambar grahana. Peteng terus hana pepadhang, dadi mencorong layare…

Sebagai uji nyali, diharapkan para punggawa grup WA hana menulis apa pun dengan gaya apa saja. Tidak perlu berpanjang kata, 300-500 karakter dulu saja sebagai uji coba, suk Senin Kliwon, miwiti pekan suci dikumpuke yo cah, neng grup WA Hana. Nasibe hana.ide gumantung karo naga dina Senin Kliwon, si Soma Kasih).

[sekilas info: saya berpikir isu menuju pembaruan liturgi gkj perlu ada rubriknya. Perlu dipikirkan. Terbitan perdana saya akan membahas tema kebangkitan sebagai destinasi kalahayu –seti. Selain itu, inspirasi khotbah minggu, kayaknya menarik ditampilkan. Om JK, Nabi Gedhem, mbek Argo jos, yen ngawal iki…. Apa maneh ya, supayahana.id jugak berwibowo?]



Akhirnya…

-          Bowo dan Nino dipasrahi kon gawe web: hana.id. YTP siap merekayasa Nino ben tumandhang.

-          YTP membuat woro-woro di pdtgkjonline, gkjnet, sahabat sinode, website sinode, … (bisa kerjasama dengan Argo apik iki cah…)

-          Sang Maha mengirimkan conto about blog kepada kyaine supaya menginspirasi tulisan aboaut hana.id

-          YTP, Sang Maha, DSP, Dav, ngimbuhi tambatan iki yen sih ana sing kurang….

-          Muga-muga wis padha mbangun tapa, njuk entuk ide….