Gerak-gerik dan Gerak Jiwa Remaja






“Seorang kesatria memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengajari dirinya sendiri.”
(Paulo Coelho, Kitab Suci Kesatria Cahaya)




Ada seorang Kesatria
Ada seorang kesatria. Namanya Ashoka. Ia lahir dari dalam api.
Ya, waktu itu ibunya yang tengah hamil dan sedang tidur, rumahnya dibakar orang. Dari nyala api itu, lahirlah seorang bayi laki-laki. Bayi yang memberi kekuatan pada ibunya untuk keluar dari nyala api, dan tidak menyerah pada keadaan.

Bagaimanapun rasa sakit yang ditanggung oleh seorang ibu, hal itu akan segera lenyap, ketika tahu puteranya selamat. Walaupun tidak punya tempat tinggal karena rumahnya dibakar orang tidak bertanggung jawab, hidup ke depan harus dijalani tanpa duka. Itulah mengapa, bayi itu diberi nama Ashoka, yang berarti tanpa duka. “Nama akan selalu mengundang segala berkah dari nama tersebut”, demikian kata-kata ajaran dalam tradisi Buddhisme Nichiren.

Ashoka, si tanpa duka, bukan berarti ketika menjalani hidup penuh kesenangan semata.  Banyak tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi ketika tumbuh remaja. Perjuangan yang hampir membuatnya putus asa adalah ketika hendak mempertemukan Dewi Darma ibunya, dengan Raja Bindhusara, ayahnya. Berkat doa ibundanya yang dimeteraikan dalam namanya, semua kesulitan dan kesusahan hidup itu pun dapat diatasi dengan tanpa duka.

Gerak-gerik Ashoka
Selama 14 tahun, Ashoka hidup dan tinggal di hutan. Binatang dan pepohonan adalah kawan-kawannya. Ia banyak belajar dari gerak-gerik binatang, hewan dan tumbuhan. Ia pun memahami rahasia kebesaran alam. Ketika dia terluka, ibunya membuat ramuan obat-obatan dari tanaman tertentu yang membuatnya sembuh. Ibunya mengajarkan, betapa pentingnya menyayangi tumbuh-tumbuhan dan hewan seperti dirinya sendiri. “Lukamu menemukan obatnya dari tanaman obat, karena kamu menyayangi semua tanaman di hutan ini. Dari mereka, kamu akan mendapatkan banyak bantuan”, demikian kata-kata ibundanya pada suatu ketika.

Suatu hari, ia bertemu dengan seekor anak burung yang jatuh dari sarangnya. Di atas sana, induknya memanggil-manggil. Ashoka pun bersegera memanjat pohon itu dan membawa anak burung kembali ke sarangnya. Sejenak ia mengamati gerak-gerik induk dan anak burung itu. Ashoka tersenyum, menyaksikan pancaran kebahagiaan anak burung dan induknya, yang kini dipersatukan kembali.

Kebesaran alam, mengajarkan banyak hal pada Ashoka. Kala menatap langit, ia melihat angkasa sebagai ayahnya. Ketika bersimpuh di bumi, ia merasakan kehangatan kasih sayang ibu pertiwi. Nilai itulah yang ditanamkan ibunya kepadanya. Tiap pagi hari, Ashoka diajarkan puja kala fajar untuk menyadari terbitnya kekuasaan Tuhan yang selalu baru tiap pagi.

Mana kala senja tiba, puja kala senja pun dipersembahkan sebagai doa syukur nan agung. Pun begitu, tiap kali akan menikmati makanan yang disediakan, sebunyi doa segera diucapkan. Doa semacam itu penting, karena melatih jiwanya untuk menghormati makanan sebagai sumber energi baginya. Dengan pengetahuan itu, Ashoka tidak pernah menyia-nyiakan makanan, sebagai anugerah Tuhan.

Kedekatan Ashoka dengan alam dan ajaran dari ibundanya sangat menentukan tingkah-laku atau gerak-geriknya. Baik itu dalam memandang kehidupan maupun dalam memahaminya. Pandangan hidup ini, pada kemudian hari sangat menentukan gerak jiwa dan gerak langkah  acintyabhaktinya bagi tanah air tercinta.

Gerak Jiwa Ashoka
Sewaktu tinggal di Pataliputra, Ashoka beroleh kesempatan untuk masuk asrama (sekolah). Kesempatan sekolah tidak diperoleh secara mudah. Pendidikan penting untuk melatih jiwa dan méntal sehingga tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Melalui pendidikan juga, Ashoka mendapat latihan olah pikir, olah rasa, olah karya hingga olah raga. Dengan pendidikan yang baik, daya pikir, daya rasa, daya karya dan daya raganya akan berkembang.

Di asrama, Ashoka punya seorang Acarya atau guru yang hebat. Acarya Chanakya namanya. Dari tokoh ini, daya-daya afeksinya diasah. Kepekaan akan estetika (keindahan) dikembangkan, termasuk pula kehalusan perasaannya. Bahkan, tidak cukup sampai di situ. Ashoka juga diajarkan pentingnya keindahan budi pekerti, kepekaan empati, solidaritas sosial, ketajaman rasa keadilan, semangat kebangsaan dan gotong royong.

Berkat pendidikan yang baik, jiwa Ashoka pun berkembang. Gerak jiwanya ditentukan oleh cita-cita yang mulia, berkat pendidikan yang diterimanya. Ia pun bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak baik. Mana yang perlu dan mana yang tidak perlu.

Méntalnya menjadi sedemikian kuat, berkat banyak ujian yang dilaluinya. Dia tidak gampang tertipu dari penampilan luar. Dia tetap berdiam diri ketika orang-orang berusaha membuat terkesan. “Aja nggumunan”, adalah salah satu nilai yang diamalkan. Alih-alih, dia pun menggunakan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Baginya, orang-orang lain telah menjadi cermin yang sangat baik baginya. Benarlah kata-kata yang tertulis dalam Kitab Suci Kesatria Cahaya: “Seorang kesatria memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengajari dirinya sendiri.”

Gerak Jiwa yang Terasah
Kehidupan tidak pernah sepi dari tantangan hingga hambatan untuk bertumbuh, bergerak, dan berkreativitas. Di sinilah pentingnya gerak-gerik atau sepak terjang yang terlatih dan gerak jiwa yang telah sedemikian terasah.

14 tahun kehidupan yang dilalui Ashoka di hutan memberinya pendidikan dasar untuk melatih gerak-geriknya, menyesuaikan dengan kebesaran alam. Ia tidak melawan alam dengan sikap rakus dan tamak. Ibundanya menanamkan nilai kehidupan bahwa alam itu akan memberikan hidupnya untuk kita bila kita mencintainya. Benar saja, ketika Ashoka menempuh pendidikan dan ada teman yang menjebaknya dengan membuatkan perangkap, ia tidak pernah kehilangan akal dan semangat untuk mengatasi hambatan tersebut.

Menghargai kehidupan, mau menolong sesama menjadi modal utama ketika dia mengatasi kesulitan bersama. Ia pun cepat mendapatkan kepercayaan dari teman-temannya untuk memimpinnya. Dengan bergotong-royong, masalah yang dihadapi orang banyak akhirnya teratasi. Ashoka mendapatkan kepercayaan banyak orang untuk menjadi pemimpin, karena ia memiliki kemampuan menghargai orang lain terlebih dulu. Ia mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan dirinya.

Dari sikap dasar yang terlatih seperti nampak dalam gerak-geriknya, gerak jiwanya pun tumbuh berkembang. Ketika harus menghadapi kesulitan atau hambatan sendirian, dia tidak mudah putus asa. Semangat selalu mengalir dalam jiwanya. Semangat ini yang kemudian ditularkan kepada orang lain untuk bersatu hati mengatasi hambatan-hambatan secara bersama-sama. Akibatnya sungguh luar biasa. Semua orang pun dimenangkan dan merayakan kehidupan. @seti