emaus niku pundi?



hari-hari selepas perayaan PASKAH orang banyak mengisahkan ulang kisah dua orang emaus yang berjalan pulang dari yerusalem. dikisahkan mereka berdua merasa didampingi seseorang dan yang kemudian disadari bahwa mereka telah ngobrol dengan gurunya yang barusan disalib dan hilang jazadnya dari kuburan.
kisah mereka menambah kisah omong-kosong serupa seperti yang diceritakan para murid perempuan yang mengunjungi makam.

kisah-kisah seperti itu makin bertambah lagi nantinya, dan membangun suatu corpus cerita yang kini menjadi bagian integral dalam iman kristen: bahwa yesus dari nazareth yang mati disalib telah bangkit [dan menampakkan diri pada simon].
sejak semula, kisah itu sudah diragukan oleh para murid sendiri.
sudah sejak awal, keraguan muncul mendampingi kepercayaan akan kisah kebangkitan ini.
jadi,
para pengisah, yakni para penginjil dan komunitasnya, rupanya sudah tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan kisah yang memang bermuka ganda. dan mereka [para penginjil dan komunitasnya] itu memilih mempercayainya katimbang menyangsikannya. dan dari sana mekarlah kepercayaan yang disebut sebagai kristen itu menjadi makin rumit dan makin kokoh.

emaus niku pundi?
emaus itu di mana?

ini bukan pertanyaan mengenai lokasi geografis desa emaus, tapi pertanyaan mengenai di mana kedudukan kisah ini bagi pertumbuhan iman kristen.
kisah ini menurut lukas terjadi tidak terlalu lama, bahkan terjadi di hari yang sama pada hari kebangkitan, yakni hari ahad petang. setelah kisah ini lukas masih memberondong kita dengan kisah selanjutnya, yakni ketika kedua orang itu kembali lagi ke yerusalem dan melaporkan ke kumpulan para murid. di situ yesus dikisahkan muncul dan menghilang kembali. masih di hari yang sama.

lukas rupanya ingin menuntaskan kisah ini dengan pernyataan yesus sendiri bahwa peristiwanya adalah penggenapan apa yang sudah ditulis di taurat musa, kitab para nabi, maupun mazmur.
kisah yang dibukukan itu tergenapi dalam peristiwa yesus.

bagi saya, ini sendiri merupakan deklarasi penting dari lukas, bahwa tuhan yang menyatakan kehendaknya itu tidak lagi terkurung dalam aksara di buku-buku, tapi sudah hadir dalam diri manusia yesus itu.
mengapa ini penting?
mengingat lukas berada dalam komunitas yang berbeda dari orang yahudi. sperti kita tahu, orang yahudi akan tersinggung bila kitab-kitab pusaka mereka dikesampingkan. sebaliknya, komunitas lukas tidak punya keterikatan yang seperti itu terhadap kitab-kitab yahudi.
kisah bikinan lukas [dan juga yang lain] dari sononya memang terbentuk dalam situasi ambigu itu, antara yesus wong ndesit dari nazareth dengan yesus yang sudah menjadi kristus yang kisahnya dibangun dan dipahami oleh 'orang-orang baru' itu.

kumpulan tulisan di perjanjian baru mencerminkan pilihan kedua itu.

hingga kini.