Deus Absconditus – Allah yang Tersembunyi




Apakah orang-orang kebatinan akan setuju bila Allah disebut sebagai Deus Absconditus – Allah yang Tersembunyi? Tidak tahu!

Teologi Deus Absconditus
Aku menemukan istilah itu dari buku Jurnal dan Meditasi Pak Gerrit. Menurut Pak Gerrit, teologi Deus Absconditus menolak pandangan bahwa Allah adalah Allah yang tidak pedulian alias pensiun. Namun sekaligus ia juga menolak bahwa Allah adalah Allah yang memaksakan diri. Kristus berdiri di muka pintu dan mengetuk, ia tidak mendobrak. Begitu Pak Gerrit menjelaskan.

Orang kebatinan tidak tertarik dengan penjelasan siapa Allah. Ini nampak dari rumusan yang sering diberikan. Gusti Allah iku tan kena kinaya apa – Tuhan ALLAH itu tidak bisa dilukiskan hingga dibayangkan seperti apa.

Begitu cerdasnya orang kebatinan menyembunyikan paham ALLAH. Tidak heran bila mereka tidak mungkin bertindak kekerasan atas nama ALLAH. Apalagi dengan teriak-teriak menyebut ALLAHnya. Ya, karena Gusti Allah iku tan kena kinaya apa.

Pentingnya Pengalaman Iman dan Laku
Samar-samar Romo Tom Jacobs sepertinya tertarik dengan penjelasan kebatinan itu. Bukunya berjudul Paham Allah, menggarisbawahi tentang pentingnya pengalaman iman, pengalaman pertemuan dengan Allah. Allah dimengerti sekaligus sebagai transenden dan imanen.

Dan, pengertian itu pun adalah pengalaman. Oleh karena itu, sikap iman tidak hanya berarti pengakuan, tetapi ketaatan, sembah sujud dan pengabdian. Orang kebatinan menyebutnya dengan laku.

Laku mengandung arti luas, mulai dari tindakan duniawi sampai menjalankan penebusan dosa. Dari pertapaan sampai membentuk hubungan dengan Tuhan. Laku mengandung arti perilaku yang budiman, tapabrata, upacara, dan renungan.

Menjalani laku, karenanya bukan pekerjaan main-main. Menjalani laku, memerlukan kekuatan tiga daya jiwa: cipta, rasa, dan karsa. Dengan laku, sebagai jalan kebatinan, orang kebatinan yakin akan dapat menjangkau pengetahuan tertinggi, yakni: Kebenaran.

Teologi dan Spiritualitas
Kembali kepada penjelasan Romo Tom, laku manusia yang bersembah bakti kepada Allah, bagaimanapun harus dijelaskan supaya dimengerti. Di sinilah tugas teologi. Tujuan teologi adalah pengertian. Sekalipun yang dimengerti itu adalah pengetahuan misteri. Dalam upaya itu, pengalaman sembah bakti manusia kepada Allah menjadi berharga. Maka spiritualitas menjadi penting bagi teologi.

Teologi tanpa spiritualitas menjadi kering dan abstrak. Sebaliknya, spiritualitas tanpa teologi gampang sekali membutakan nalar. Sejatinya, teologi dapat membantu spiritualitas untuk tetap kritis terhadap diri sendiri dan tuntutan zaman.

Perkawinan teologi dengan spiritualitas inilah yang melahirkan spiritualisme kritis –kata Ayu Utami. Beriman, memiliki ketaatan, bersembah bakti, selalu membutuhkan nalar. Ringkasnya, nala jangan pernah dipisahkan dari nalar!

Spiritualitas, hidup yang digerakkan oleh Roh, memiliki tujuan yakni pengharapan. Pengharapan adalah keyakinan bahwa kerinduan akan misteri tidak percuma. Dengan pengharapan, orang akan berani menerima hidup dan mengembangkannya ke arah misteri yang agung.

Pengharapan memiliki pengertian yang kurang lebih mirip dengan sikap batin dari laku dalam kebatinan. Orang yang menjalani kebatinan, selalu memiliki sikap batin mengembangkan diri dalam hasrat untuk menjalin hubungan dengan Yang Mahakuasa.

Berliturgi untuk Mendalami Laku
Mendiskusikan tentang laku, diselipi teologi dan spiritualitas akhirnya menuntun pada pentingnya liturgi. Kok bisa? Karena melalui liturgi yang dirayakan, terungkaplah apa yang diimani sekaligus bagaimana orang melakoni hidupnya secara konkret. Selain itu, liturgi yang sah adalah ketika membantu mempertemukan orang dengan Tuhan.

Karena itu, dalam liturgi orang dimasukkan ke dalam misteri iman dan wahyu. Di dalamnya, ketakwaan dan kemantapan menjadi satu. Sebab liturgi tetaplah doa, yang berarti pertemuan pribadi dengan Allah.

Dengan berliturgi, orang akan mengalami, dan menghayati siapa Allah yang berelasi dan berkomunikasi hingga berkomuni dengan dirinya. Betapa Allah yang begitu menjadi sedemikian dekat itu, sungguh nyata dalam berliturgi.

Ketika orang kebatinan menganggap laku sebagai jalan untuk manunggal dengan Tuhan – untuk selalu menjadi Satu, maka teologi Kristen mengatakan bahwa liturgi merupakan jalan untuk manunggal dengan Tuhan. Kristus yang turun ke bumi menjadi Imanuel, yang itu menjadi pusat liturgi adalah buktinya.

Bahwa Allah yang tersembunyi itu ternyata begitu peduli melalui kehadiran-Nya yang sering tersembunyi dari nalar manusia namun menyapa nala kita melalui sembah rasa. |seti