Cinta Maria dari Magdala



“Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman…”

Sungguh luar biasa gerak cinta Maria dari Magdala. Pagi-pagi benar, ia berangkat dengan cepat menjenguk kuburan Tuhan yang dicintanya (Yoh 20:1). Namun, sungguh meranalah hati Maria kala melihat pintu goa itu telah menganga. Ya, pintu batu itu, ternyata telah ada yang membuka.

Maria pun tersedu. Air mata pun menjadi media pewartaan hati, kala mengingat Tuhan yang sangat dicintai (Yoh 20:11). Terbayang, kata-kata yang menguatkan hati. Terkenang, sabda yang membuat hati berpadu.

Cinta Maria dari Magdala memang pantas dipuji. Kenyataan bahwa Tuhannya telah menjadi mayat, tidak memadamkan nyala api cintanya. Inilah nilai kesejatian cinta. Maria mencari Tuhan untuk mendengarkan sabda-Nya, tidak hanya kala Yesus masih hidup di dunia. Tuhan yang berselimut kafan, tetap dicarinya dalam keheningan.

Mungkin apa yang dilakukan Maria dari Magdala ini melukiskan kemendalaman cinta. Tepatlah kata-kata Nouwen dalam bukunya Bisikan Cinta Tersembunyi. ”Jangan ragu-ragu untuk mencintai dan bahkan mencintai secara mendalam!” Mengapa harus mencintai secara mendalam? Bukankah cinta bisa menimbulkan rasa sakit?

Betapa terlukanya ketika cinta tertolak. Betapa pedihnya ketika orang yang dicinta meninggalkan kita. Untuk kasus ini, Nouwen berkata: ”... hal itu tidak perlu menghalangi Anda untuk mencintai secara mendalam. Rasa sakit yang muncul akibat cinta yang mendalam membuat cinta Anda semakin menghasilkan buah.”

Lebih jauh lagi, ”Semakin Anda mencintai dan membiarkan diri Anda menderita karena mencintai, Anda semakin mampu juga untuk membiarkan hati Anda tumbuh makin luas dan dalam. Jika cinta Anda sungguh-sungguh memberi dan menerima, maka mereka yang Anda cintai tak akan meninggalkan hati Anda meskipun mereka pergi dari Anda. Mereka akan menjadi bagian dari diri Anda, dan secara perlahan-lahan membangun suatu komunitas di dalam diri Anda.”

Kemendalaman cinta Maria, itulah yang membuat kubur Yesus menjadi taman doa. Tempat ia mempersembahkan doa batin dalam hening. Zona baginya untuk menyaring dan memandangi terus Cinta Kristus. Kerinduan hati Maria ternyata tidak sia-sia. Dalam taman doanya, ia berjumpa dengan Tuhannya. Perjumpaan yang mendatangkan pemurnian hati. Perjumpaan yang membuatnya mengalami pencerahan bagi jiwa.

"Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." (Yoh 20:17)

Kembali, saat-saat terindah perjumpaan Maria dengan Tuhan terulang begitu dahsyat. Kali ini tidak hanya pelepasan roh jahat dari tubuhnya, namun ia mengalami pemurnian hati dan jiwa. Cahaya kemuliaan kebangkitan Kristus kini menguduskan hidupnya. Cahaya kebangkitan yang membuatnya berani tersenyum kepada dunia. Cahaya pencerahan yang membangkitkan kesadaran membangun komunitas beralas cinta kasih Tuhan.

Semoga dengan terbitnya sinar cahaya pengharapan Paskah, membuat banyak hati mengalami cinta-kasih Tuhan. Pengalaman yang menumbuhkan keberanian untuk mencintai secara mendalam. Seperti cinta Maria dari Magdala. |seti

kakintun knanthi sêmbah bêkti dumugèng mêgatruh