Bukan Sekedar Suara yang Berpadu

paduan suara GKJ Ceper




Hampir setiap gereja memiliki kelompok paduan suara yang berlatih dan tampil secara rutin sebagai kegiatan bergereja. Hal ini terjadi karena bernyanyi adalah salah satu bagian yang penting bagi umat Kristen di dalam beribadah. Menyanyi diyakini dapat menjadi sarana untuk memuji Tuhan. Oleh karena itu sejak kanak-kanak, warga gereja sudah mulai dikenalkan nyanyian-nyanyian sederhana yang berkaitan dengan Alkitab ataupun iman Kristen melalui Sekolah Minggu.

Paduan suara sudah ada sejak ribuan tahun silam, jauh sebelum gereja lahir. Di dalam Alkitab, nyanyian umat mulai dikenal oleh bangsa Israel saat mereka berada di perjalanan menuju Kanaan, yang diperkirakan merupakan tradisi yang ditularkan bangsa Mesir kepada mereka. Meskipun bentuknya pada waktu itu masih sangat sederhana dengan cara menyanyi bersama-sama di lingkup keluarga atau persekutuan umat, tetapi dari sinilah mulai ada kerinduan untuk memuji Tuhan bersama-sama. Paduan suara pun kemudian berkembang di lingkup sinagoge sebagai wujud puji-pujian kepada Yahweh. Selain bangsa Israel, bangsa yang lain seperti Yunani, pun juga menggunakan paduan suara untuk sarana mereka beribadah kepada dewa. Hingga sampailah paduan suara ini di kehidupan bergerja yang  kemudian mengalami perkembangan yang pesat ketika gereja berada di tengah-tengah bangsa Eropa.

Studi dan pengembangan paduan suara pun di abad pertengahan didominasi oleh gereja di Eropa. Pengembangan itu dimulai ketika mulai ditemukan konsep “poliponik” menggeser trend “monoponik” dengan diawali paduan dua suara menjadi satu laras kisaran tahun 800-an. Hingga perkembangan musik klasik, mulai dari jaman renesaince, barok, hingga romantik, gereja memiliki peran besar baik di dalam pembelajaran ataupun presentasi karya paduan suara. Puncak kejayaan paduan suara klasik adalah pada masa barok, yakni saat Bach dan Handel menggelar mahakarya konser mereka di Eropa. Karya Bach yang berjudul St. Matthew Passion (1729) dan oratorio karya Handel berjudul Messiah (1742) merupakan karya-karya yang begitu masyur di kalangan gereja atau pun dalam pembelajaran musik klasik secara umum.

Pada saat ini, paduan suara gereja telah memasuki era yang baru, yakni era kontemporer. Masa di mana tidak ada batasan-batasan yang baku di dalam interpretasi serta tampilan sebuah karya. Hanya saja yang perlu dilihat kembali adalah penempatan paduan suara di dalam ibadah supaya tidak ada kesan dipaksakan tampil. Perlu dilihat tema lagu yang dibawakan, jenis musik yang tersaji, hingga tempat tampilnya tim paduan suara tersebut. Jangan terjebak kepada, “wis pokoke tampil, memuji Gusti,” tetapi penampilannya tidak sesuai dengan alur dan tema peribadahan. Dibutuhkan kejelian, kepekaan, dan kerja sama yang apik agar pesan dari lagu yang dibawakan oleh paduan suara dapat benar-benar sampai dan menyentuh nurani jemaat. Di sinilah peran pengkhotbah, bukan hanya memberi ruang dan tempat untuk tampilnya paduan suara saja, tetapi juga berupaya agar apa yang ditampilkan oleh tim paduan suara dapat benar-benar laras dan sumeleh di dalam peribadatan. (DPP)