bahan PA

On Wednesday, March 23, 2016 4:11 PM, paulus pudjaprijatma <ki_atma@yahoo.com> wrote:
Waosan: Lukas 15:1-3, 11b-32
Sawetawis katrangan

1. Perumpamaan ini sedemikian terkenal. Biasanya diberi judul ”Anak yang hilang.” Judul yang paling tepat sebenarnya adalah ”cinta kasih tanpa syarat seorang bapa.”

2. Dari perumpamaan ini ada beberapa karakter dan cara/gaya/model hidup manusia yang tergambarkan, yaitu anak bungsu, bapa, anak sulung, majikan di negeri asing dan para hamba. Saya, anda, kita memilih memiliki karakter dan cara/gaya/model hidup yang mana? Dasar atau ukuran paling tepat adalah Yesus. Saya, anda, kita mesti menempatkan diri andaikata saya, anda, kita adalah Yesus karakter dan cara/gaya/model hidup mana yang dipilih.

2.1. Anak bungsu
Ia meminta bagian harta warisan ayahnya. Tindakan ini sebenarnya tidak apa-apa. Seorang anak yang meminta modal untuk berusaha itu lumrah. Kesalahan mutlak dan fatal yang dilakukan si bungsu ini modal itu dihabiskan untuk berfoya-foya. Usahanya hancur karena ia tidak menjalankan usahanya denga menejemen yang baik. Sebaliknya ia mengumbar hawa nafsu, menurutkan kesenangan diri sehingga usahanya hancur dan ia jatuh melarat sedemikian melaratnya.
Kalau saya, anda, kita adalah Yesus apakah akan memilih memiliki karakter dan cara/gaya/model hidup seperti anak bungsu ini?
Apakah saya, anda, kita benar-benar tidak menghamburkan modal hanya untuk mengumbar nafsu? Bagaimana dengan modal yang berupa alam, hutan, air, angin, dsb. dikembangkan atau justru sebaliknya diboroskan untuk mengumbar nafsu-nafsu diri?


2.2. Bapa
Bapa mencintai anak-anaknya tanpa syarat apa pun. Ia memberi modal kepada anaknya yang bungsu yang akan berusaha di negeri asing. Ia memberi modal kepada anaknya yang sulung yang tinggal di rumah berusaha sebagai petani dan peternak. Ia mencintai anak-anaknya. Karena cintanya ia selalu menunggu anaknya yang bungsu pulang kembali. Ketika melihat si bungsu pulang kembali, ia menerimanya dan tidak mempermasalahkan masa lalu si bungsu itu. Ia mengadakan pesta untuk mensyukuri anaknya yang telah mati kini bangkit kembali. Ia lebih melihat ke depan. Ia membangkitkan harapan kepada si bungsu yang telah putus asa.
Kalau saya, anda, kita adalah Yesus apakah akan memilih memiliki karakter dan cara/gaya/model hidup seperti sang bapa ini? Apakah saya, anda, kita memiliki cinta tanpa syarat?
Cinta tanpa syarat terhadap bangsa dan negara sehingga perjuangan yang dilakukan para leluhur, antara lain serangan Oemoem 1 Maret itu tidak sia-sia? Setidaknya cinta tanpa syarat kepada orang beragama lain, juga yang beragama Jawa sehingga mereka tidak dipaksa-paksa memilih beragama kristen atau yang lainnya?
Apa bentuk nyata cinta tanpa syarat GKJ Purwodadi kepada masyarakat Grobogan sehingga peringatan hari jadi kabupaten setiap 4 Maret itu bukan hanya sekedar uparacara tetapi menjadi aksi atau tindakan konkret?


2.3. Anak sulung
Ketika anak bungsu pulang kembali dalam keadaan yang menyedihkan bahkan menjijikkan karena ulahnya mengumbar nafsu lalu dipulihkan statusnya sebagai anak oleh sang bapa, si anak sulung memberontak. Ia tidak mau menerima adiknya itu dipulihkan kembali. Ia ”mutung” dan melawan bapanya.
Kalau saya, anda, kita adalah Yesus apakah akan memilih memiliki karakter dan cara/gaya/model hidup seperti anak sulung ini? Kalau ada orang yang terbukti berdosa, salah, bagaimana perasaan hati kita: apakah merasa diri lebih baik daripada orang itu atau sebaliknya introspeksi dan merendahkan diri bahwa saya tidak lebih baik daripada dia?
GKJ Purwodadi memang bertindak aneh di antara GKJ-GKJ lain, setidaknya sudah dua kali memanggil calon pendeta bukan yang berasal dari orang-orang hebat yang terbukti ”bersih” tetapi justru orang yang pernah ”kehilangan” status kependetaannya. Selalu saja ada yang tidak setuju bahkan menolak keras. Memang mereka yang semula menolak keras itu ada juga yang kemudian berubah justru menjadi ”pendukung” keras. Ada pula penolak keras yang kemudian bertindak lebih keras. Dari dua kali pencalonan itu penolakan yang lebih keras terhadap calon kedua yang adalah seorang wanita dan wanita itu bisa hamil sedangkan lelaki tidak bisa hamil. Petrus yang menyangkal Yesus dipulihkan ke statusnya sebagai murid. Maria yang sangat berdosa setelah ”diampuni dosanya” kemudian menjadi murid Yesus dan dialah yang tahu pertama kali bahwa Yesus sudah bangkit. Hanya karena perempuan dianggap lebih rendah derajadnya daripada lelaki maka baru di abad lalu perempuan boleh menjadi pemimpin gereja. Di GKJ baru pada 1960 diputuskan wanita boleh menjadi majelis gereja. Baru setelah 30 tahun (pada 1991) dari keputusan itu ada pendeta wanita pertama. Mengapa ada kecenderungan diskriminasi terhadap wanita? Di mana karakter dan cara/gaya/model hidup bapa? Apakah ini bukan karakter dan cara/gaya/model hidup anak sulung?


2.4. Majikan di negeri asing
Ketika si anak bungsu menderita karena kemiskinan yang luar biasa, ia yang semula kaya raya akhirnya menjadi pekerja rendahan yaitu menggembalakan babi. Bagi orang Yahudi babi itu binatang haram. Si anak bungsu ini terpaksa melakukan pekerjaan yang sangat nista yaitu menggembalakan binatang haram dan tidak mustahil sering diendus oleh babi sehingga setiap saat ia telah menjadi najis. Ia ingin makan makanan babi itu tetapi tidak ada yang memberi. Majikan itu adalah majikan yang mempekerjakan orang tetapi tidak memperhitungkan nilai atau martabat kemanusiaan orang yang dipekerjakannya.
Kalau saya, anda, kita adalah Yesus apakah akan memilih memiliki karakter dan cara/gaya/model hidup seperti majikan ini? Apakah penyebutan bernada mengejek ”cah ndesa” atau ”kampungan” itu wajar, atau ada kandungan merendahakan martabat orang desa? Kalau orang desa tidak bercocok tanah, apakah orang kota bisa nyambel, nyayur, dsb? Di padepokan ada seorang desa yang kasar dan bisa dianggap ujas-ujus (kurang sopan) namanya Darpin tetapi ia sangat jujur dan setia.


2.5. Hamba
Karena hanya sebagai hamba maka mereka hanya menurutkan saja kehendak majikan. Kalau kebetulan majikannya bagus, seperti bapa itu para hamba mendapat perlakukan sesuai martabatnya sebagai manusia. Akan tetapi kalau dapat majikan seperti majikan di negeri asing itu ya pasti diperlakukan secara tidak manusiawi. Kalau majikannya anak sulung mungkin selalu disalahkan saja. Hamba itu selalu merasa tidak berdaya. Maka juga tidak punya inisiatif apalagi bertindak progresif. Ada banyak orang yang merasa tidak berdaya maka menyerah kepada penindasan, Para TKI terlebih TKW cenderung menjadi bulan-bulanan tak berperikemanusiaan di negara asing (Arab, Malaysia, dsb).
Kalau saya, anda, kita adalah Yesus apakah akan memilih memiliki karakter dan cara/gaya/model hidup seperti hamba ini? Memiliki mental hamba atau budak?


Syukur ada seorang Ahok yang meskipun cina dan kristen, yang pada umumnya merasa tidak berdaya melawan ketidak-adilan di Indonesia ini, tetapi Ahok tampil dengan gaya kasarnya yang sangat menakjubkan jujur, bersih, berani dan tanpa pandang bulu. Ahok tidak memiliki jiwa hamba, mental budak. Orang lain naik haji dengan biaya negara, Ahok mengirim para marbot (penjaga masjid) umroh biayanya dari kantung Ahok sendiri. Dengan tegas ia menyatakan dirinya bukan orang Kristen, tetapi orang yang beriman kepada Yesus Kristus. Maka ia dengan berani juga mengritik pedas agama kristen sebagai agama yang ajarannya konyol sebab merasa pasti masuk sorga, tanpa menekankan pentingnya perbuatan baik (budi luhur, moral-etik unggul). Beranikah kita bersikap seperti Ahok dalam berbangsa dan bernegara ini?