Alam-alaman dalam Pengalaman Mampir Ngombe

"Ini adalah sebuah masyarakat yang para anggotanya memiliki terlalu banyak waktu untuk saling merecoki, mengawasi, bergunjing, dan mengobrol."
-Niels Mulder-


"Urip iku mung mampir ngombe." Ungkapan yang begitu akrab dalam kultur masyarakat Jawa. Mampir ngombe adalah istilah yang mengakar dari kebiasaan minum teh di Jawa. Kebiasaan yang menerangkan sebuah pandangan hidup.

Minum teh, lazim disebut wedangan. Dari jarwa dhosok 'ngawe kadhang' -mengundang (dengan cara minum teh) untuk diterima sebagai saudara. Sebuah keramahan yang khas Jawa. Karena, dalam wedangan itu selalu disertai percakapan.

Jadilah, minum teh sebagai ritual keseharian. Dan teh 'ginasthel' -legi panas kenthel, dianggap punya kualitas terbaik. Ketika disruput, efeknya 'kemepyar' di badan, ditandai keluarnya keringat dengan dampak menyegarkan.

Apa saja isi percakapan atau obrolan ketika wedangan? Macam-macam. Apa pun bisa diobrolkan. Dari hal yang serius, hingga hal aneh-aneh dan tak masuk akal. Dari sini kadang muncul istilah yang unik, hanya bisa dimengerti oleh komunitas wedangan tersebut. Wadanan tambahan pun sering 'ditahbiskan' dalam ritual wedangan ini.

Ada seorang 'anak kandang' -sebutan untuk pekerja di peternakan ayam- namanya Anjas. Sudah mendapat wadanan 'kucrut'. Suatu ketika dia tak berkutik ketika disapa 'sang peku'. Lengkapnya 'pekucrut'. Saya mendapat gelar 'sunan kaliprogo' pun dari ritual wedangan di pujowinatan ini. Pujowinatan adalah sebutan kami untuk rumah Mbah Pujo, Pereng, Ngentakrejo.






Wedangan atau minum teh, menurut Niels Mulder adalah untuk mengisi waktu dan menghindari masalah yang sebenarnya. Niels bilang begitu, sangat dimungkinkan karena dia pernah dibuat pusing ketika mengerjakan penelitian. Ini pengakuannya: "Jika aku ingin mewancarai, tentang pembangunan, mereka segera kehilangan minat."

Sejatinya, dalam ritual wedangan itu, bisa menjadi wahana alam-alaman (tukar kawruh). Tukar kawruh seperti itu bisa terjadi dalam titik atau momen tertentu. Sesuai dengan arti alam-alaman itu sendiri sebagai 'mung ing mangsa tartamtu' atau 'mangsan'. Maka dari itu, untuk mendapatkan inti percakapan dalam ritual wedangan sebagai alam-alaman memerlukan kepekaan. Semacam ke-waskhita-an tingkat dewa.

Akhirnya, mengapa hidup oleh masyarakat Jawa dilukiskan sebagai 'mung mampir ngombe?' Ngombe yang menjelma dalam ritual wedangan merupakan hal yang penting. Ketika hidup di alam madya ini, jangan lupa ngawe kadang, mengundang rekan untuk minum bersama. Melalui wedangan, banyak hal bisa dibicarakan untuk ditindaklanjuti.

Jangan lupa, hana.web.id ini lahir pun melalui ritual wedangan. Ngopi di Potorono, Banguntapan, Bantul. Karena itu, acara wedangan di Banguntapan disebut sebagai ritual mbangun tapa. [seti