4N Nalar – intelligence Nala – spirituality Naluri – instinct Nurani – conscience

Jika nalar benar-benar menyusupi kehidupan dalam semua aspeknya, maka kita akan menjalani kehidupan yang memprihatinkan. Kita menginginkan dan memerlukan nuansa keindahan, sentuhan magis, lilin, dan doa keagamaan. – Niels Mulder




Istilah tersebut sering aku pakai di berbagai tulisan. Entah ketika menulis Khotbah Jangkep maupun Renungan Sadhar. Termasuk dalam rubrik (penjelasan makna dan petunjuk) dalam buku Tata Urutan Perayaaan Misteri Karya Penyelamatan Allah yang aku buat. Istilah tersebut aku pungut dari buah perenungan filsafat Prof. Liek Wilardjo.

Aku bisa satu ruangan dengan Prof. Liek karena paper yang aku ajukan untuk Seminar Internasional diterima. Pak Liek adalah salah satu key-note speaker, dan aku salah satu pemakalah. Ternyata aku satu-satunya makhluk berstrata 1 (S1) yang menjadi pemakalah. Peserta aktif lain jangan tanya. Minimal S2 dengan pengalaman penelitian yang lumayan. Belum lagi para doktor, peneliti senior, hingga profesor yang kesohor.

Siapa tidak kenal Prof. Liek Wilardjo. Seorang cendekiawan yang mengagumkan. Paling tidak bagiku. Kala itu beliau presentasi dengan makalah berjudul “Membela Antroposentrisme”. Nah, istilah nala, nalar, naluri dan nurani ada dalam makalah itu. Indra ciptaku pun segera menerawang mencermati istilah kunci tersebut.

Seharusnya aku presentasi berdua dengan Mbak Weny Sarastuti, perempuan berjilbab, tentu seorang muslimah, yang adalah teman relawan di lereng Merapi. Aku kenal Mbak Weny ketika Sinode GKJ bekerja sama dengan LBKUB mendirikan Posko Penanggulangan Bencana Erupsi Merapi di Boyolali (2010). Kerjasama itu atas inisiatif Pdt. Simon Yulianto yang kala itu menjadi Ketua Bidang Kesaksian Pelayanan Bapelsin XXV. Waktu itu aku masih menjadi pendeta di GKJ Cipta Wening, satu Klasis dengan Pak Simon, pendeta GKJ Boyolali. Mbak Weny adalah salah satu staf di LBKUB kala itu.

Pengalaman bersama penyintas di pengungsian menarik perhatian. Terutama ketika mendengarkan kesedihan mereka harus berpisah dengan sapi-sapinya. Semalam tidak bisa tidur memikirkan sapi, sehingga pagi-pagi buta mereka nekat pulang. Tentu tanpa ijin dari kami, tak peduli juga dengan larangan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Boyolali tentang zona terlarang. Itulah yang mendorong kami melakukan penelitian kecil-kecilan untuk Seminar Internasional.

Sayang, waktu hari presentasi Mbak Weny tidak bisa hadir. Padahal, bila bisa presentasi bersama tentu akan memberi nilai lebih pada acara itu. Pendeta dan seorang perempuan berjilbab presentasi bareng, hasil dari kerja penelitian bersama. Hubungan Islam – Kristen yang belum kebal dengan isu kristenisasi/ islamisasi itu, barangkali bisa terus berjalan ke arah yang makin humanis. Jangan malahan terus-terusan memelihara semangat persaingan hingga bermusuhan. Manusia beragama, apa pun, sejatinya lebih bermartabat bila mengembangkan persaudaraan sejati!

Nalar oleh Bausastra dijelaskan sebagai angen-angen, gagasan, budi, serta benering pamikir. Pak Liek menyejajarkan dengan intelligence. Aktivitas cipta (pikiran/angan-angan) rupanya hendak diberi perhatian oleh Pak Liek. Orang kebatinan selalu mengingatkan supaya selalu mewaspadi angan-angan atau pikiran. “Penggunaan angen-angen yang benar adalah berserah diri pada Tuhan, atau yang lebih tepat, berusaha agar Tuhan mengisi batin kita.” Sembah cipta, karenanya perlu disentuh dengan getaran religiusitas ini.

Nala dijelaskan sebagai pangrasaning ati. Oleh Pak Liek dipadankan dengan spirituality. Spiritualitas karenanya terhubung erat dengan soal olah rasa. Olah rasa melibatkan aktivitas intuisi. Orang yang memiliki kepekaan rasa demikian halus dan dalam, biasanya akan membantunya menangkap suatu pemahaman sehingga bisa yakin sepenuhnya.

Namun demikian, Paul Stange dalam buku Kejawen Modern mengingatkan, walaupun sesuatu [pemahaman] itu datang melalui rasa yang paling halus, kita harus tetap hati-hati.  Olah rasa, karenanya tidak bisa dipisahkan dari “spiritualisme kritis” –istilah Ayu Utami– di dalam pengetahuan batin, sekalipun tentu termasuk sembah rasa.
Naluri berarti miturut sing uwis-uwis (berdasarkan hal-hal yang sudah terjadi pada masa lalu). Semacam insting. Nurani berarti wening. Pak Liek memadankan dengan istilah conscience. Kesadaran itu membawa pada keheningan.

Menurut Pak Liek, yang memiliki 4N itu hanya manusia. Karena itu anthroposentrisme perlu dibela. Para aktivis lingkungan sudah kebablasen dalam mengkritisi anthroposentrisme. Hal ini terjadi karena kurang mendalami makna “imago Dei” yang melekat dalam diri manusia. Ketika mengutip narasi Kitab Genesis dan menerangkan di forum, sungguh, Pak Liek adalah ilmuwan yang beriman. Dari sosok Liek Wilardjo, siapa pun bisa belajar banyak tentang asketisme seorang cendekiawan. |seti